16 Desember 2012 lalu tepat setahun kamu pergi. Rasanya gak percaya udah selama itu kita gak ketemu. Lebih setahun sudah saya gak ngobrol, cekakakan, gegaringan, cela-celaan sama kamu. I didn’t think I could make it, but yet here I am, somehow I’ve made it.
Taukah, dari sejak kamu pergi, saya belum lagi bisa pergi ke tempat-tempat yang dulu biasa kita datangi karena pasti langsung keinget kamu. Buat saya masih berat rasanya mengingat. Ya, saya tau sekarang kamu udah di tempat yang lebih baik. Dan saya juga tau bahwa di sana kamu udah tenang, gak kesakitan, dan udah tembem lagi kayak dulu. Tapi saya sedih kamu udah gak ada. Dicari kemanapun gak akan ada lagi. Sebagai manusia yang egois, saya sebal karena kamu ninggalin saya.
Kematian bukan hal yang asing buat saya. Saya sudah pernah menguburkan ibu, ayah, paman tersayang, juga nenek, paman lain, paman yang lain lagi, dan seorang abang ipar. Jadi saya tau persis rasanya ditinggal. Rasa kosongnya, rasa mengambangnya, rasa sesaknya. Tapi belum pernah saya ditinggal selamanya oleh seorang sahabat. Semua yang pergi sebelum kamu adalah famili, keluarga yang dipilihkan sejak lahir. Sedangkan kamu adalah sahabat, orang pilihan yang saya temukan sendiri lalu saya undang ke dalam kehidupan saya untuk berbagi. Saling cocok, saling ngerti, suka sama suka.
Sekian tahun lalu pun, kamu memilih saya untuk jadi sahabat. Kamu membagi ceritamu, mimpimu, kesulitan-kesulitanmu. Dulu waktu sekantor, tiap hari kita ketemu dan tiap hari pula kita bercerita. Letak kubikelmu yang persis di depan kubikel saya membuatmu selalu jadi orang pertama yang saya lihat dan ajak bicara. Job desk kerja kita yang hampir sama juga membuatmu selalu jadi orang yang pertama kali saya ajak diskusi atau berkeluh-kesah. Setelah pisah kantor pun, nyaris tiap minggu kita ketemu. Baik bareng Geng Menye ataupun berdua aja. Entah sudah berapa ribu cerita yang kita bagi bersama, dari hal-hal penting sampai printilan remeh yang gak meaning sekalipun. Jadi saat kamu pergi, apalagi setelah proses panjang dimana kamu sakit dan kedekatan kita di hari-hari terakhirmu, saya merasa sepi. Seperti ada sesuatu yang ditarik paksa dari hidup saya. Kamu hilang begitu saja. Sungguh, saya sebal kamu pergi.
Losing you is hard. Kadang saya masih sebal karena Tuhan memanggilmu begitu cepat. Kamu pergi di saat masih begitu muda, di saat kamu belum mewujudkan semua mimpi-mimpimu. Iya kamu memang sakit berat, tapi kamu kan masih muda... begitu logika saya waktu itu. Di hari-hari terakhirmu, meski dengan jelas melihat fisikmu yang kian melemah, saya paksakan diri untuk optimis, meyakini bahwa kamu akan sembuh dan semuanya akan kembali seperti dulu. Bahwa ini hanyalah sebuah fase. Tapi ternyata tidak, rencana Tuhan singkat saja. Dalam hidup saya, kamu itu ternyata hanya pinjaman sementara. Tuhan meminjamkan kamu pada saya cukup 1.580 hari saja.
1.580 hari. Pertama kali menghitung dan mendapatkan angka itu, saya gak percaya. Benarkah hanya segitu? Betapa singkatnya, batin saya. Saya kira jumlahnya akan jauh lebih dari itu karena I felt like I’ve known you forever. Tapi ternyata memang hanya segitu jumlah hari kebersamaan kita. Kurang dari 4 tahun, gak sampe 2.000 hari. Jumlah segitu akurat karena saya sudah menghitungnya dengan cermat: hari terakhir dikurang hari pertama. Hari terakhir adalah pagi 16 Desember 2011, ketika Dorris menelepon sambil menangis, mengabari bahwa kamu udah gak ada. Sedangkan hari pertama adalah pagi 20 Agustus 2007, ketika pertama kali kita berjabat tangan di kantor redaksi Gogirl!.
Saya ingat, enam tahun lalu di hari pertama itu, saya, kamu, Dorris, dan Yasmin, sebagai reporter-reporter baru, untuk pertama kalinya ikut rapat redaksi. Sebuah rapat besar untuk pitching ide edisi Oktober 2007. Tema majalahnya: Family Issue. Lucunya, usai rapat kita sama-sama menyadari bahwa kita harus saling mewawancarai. Kamu yang kebagian nulis feature "Dealing with Family Crisis", butuh narasumber orang yang pernah ditinggal meninggal oleh keluarga. Sedangkan saya butuh narasumber anak yang orangtuanya bercerai untuk artikel "Having A Divorced Parents". Karena saya yatim piatu dan kamu broken home, kita terpaksa mewawancarai satu sama lain.
Belakangan, saya merasa kejadian itu cukup spekta, karena kamu dan saya sebetulnya sama-sama susah curhat tentang masalah keluarga yang personal, apalagi ke orang yang baru kenal. Saya ingat, pada sesi ‘wawancara silang’ empat tahun lalu itu, saya bercerita dengan salah tingkah. Dan kamu pun tampaknya begitu. Luka-luka lama yang sebetulnya masih basah terpaksa kita korek lagi demi kepentingan sebuah tulisan. Taukah kamu, bahwa hal-hal yang saya ceritakan padamu saat itu hanya pernah saya ceritakan ke segelintir orang saja? Dan belakangan saya jadi tau, bahwa hal-hal yang kamu ceritakan empat tahun lalu itu adalah salah satu pergumulan terbesar hidupmu yang gak semua orang tau.
Harusnya dua sesi wawancara yang 'dalem' tapi super canggung itu membuat kita awkward berteman. Tapi anehnya, lambat tapi pasti kita justru semakin klik. Agaknya karena sejak awal keadaan memaksa kita untuk saling terbuka, ada semacam kesepahaman ‘tau sama tau’ di antara kita. Kita saling menghargai, saling menghormati. Sampai detik ini, saya percaya saya berhutang pada alam semesta karena telah ‘memaksa’ kita untuk berteman. Ya, saya percaya itu.
Dan saya betul-betul merasa beruntung kamu mau jadi teman saya. Selera humor yang sama serta pembawaanmu yang cuek, kocak dan berani malu itu membuat pertemanan kita sungguh–sungguh menyenangkan. Sumpah, kamu itu kocak! Celetukan, gaya becanda, apalagi gerak-gerikmu itu, sering banget bikin saya ngakak. Saya gak akan lupa pertama kali liat kamu jalan nyamping ala dancer konser Agnes Monica, atau pertama kali mergokin kamu dengan cueknya power nap di mejamu sambil angkat kaki ^_^.
Di kantor, kamu adalah penyemarak suasana. Kamu cocok dengan semua orang dan disayang semua orang, sampe ke OB dan para driver. Bersama Dorris, Irene, Selly, dan Priyo, kamu adalah biang kerok dan pencetus berbagai keseruan. Gak keitung aneka kejahilan, permainan, tantangan, serta momen-momen hore yang kalian ciptakan untuk memeriahkan kantor, terutama lantai 2 di markasnya para redaksi. Ingatkah, dulu kita sering main ABC 5 Dasar atau Cang Kacang Panjang? Bukan untuk adu ilmu atau adu keberuntungan, tapi lebih ke adu nyali. Yang kita tunggu-tunggu sebetulnya bukanlah permainannya, tapi saat-saat penghukuman dimana si pecundang harus rela dikerjain melakukan aneka tantangan konyol. Aneka games yang dulu rame-rame kita mainkan emang sering kelewat fisik dan mirip lomba 17-an di kelurahan. Tapi disitulah serunya, kantor jadi bagaikan taman bermain, setiap hari pasti ada aja alasan untuk ketawa. Among other things, kamu dan teman-teman adalah alasan saya selalu semangat bangun pagi dan berangkat kerja.
Karena selera humor kita sama, tiap hari adaaa aja yang jadi bahan ketawaan. Satu momen ketawa paling spekta yang sampe sekarang masih suka bikin saya nyengir adalah waktu kita berdua sukses ngerjain Dorris lewat YM. Ingatkah, waktu itu lagi masa-masanya deadline dan semua orang lagi stres, termasuk si Dorris. Lewat YM di komputermu, kita berpura-pura sebagai Mba Nita yang lagi marah-marah. Kita sengaja pilih font Arial Black tebal yang biasanya dipake Mba Nita setiap nge-YM dan nyecer si Dorris soal kerjaannya yang belum beres. Hihi, mungkin karena lagi stres, Dorris lengah dan ketipu! Melihat dia gelisah dan panik garuk-garuk kepala di kubikelnya, kita makin histeris, susah-payah meredam tawa sampe terbungkuk-bungkuk di pojokan kubikelmu. Sumpah, waktu itu perut saya sakit banget dan nyaris pipis di celana!
Cuy, nama kamu memang bersinonim dengan tawa. Tiap bareng kamu bisa dijamin saya pasti terhibur. Tapi kamu gak cuma asik diajak hore-horean. Sebagai teman diskusi dan ngobrol, dari yang berat sampai yang ringan bego sekalipun, kita nyambung. Kamu adalah orang pertama yang saya datangi di kantor setiap butuh pendapat soal kerjaan. Kamu juga orang pertama yang saya towel tiap saya fed up atau pingin ngeluh soal manajemen kantor lama kita dan orang-orangnya yang... yah gitu deh...
Dan sadarkah kamu? Kita mirip. Kamu moody, saya juga. Kamu keras, saya juga. Kamu hati-hati, saya juga. Kamu tak suka berbasa-basi, saya juga. Logikanya, 2 magnet dengan kutub sama akan saling tolak-menolak, tapi kita malah klop. Belakangan saya tau, kita sama-sama Aries sejati yang keras, setia, dan punya benteng hati yang berlapis-lapis. Dari luar mungkin kita terlihat approachable dan mudah tertawa, tapi untuk menembus hati dan kepercayaan kita, butuh waktu dan effort ekstra.
Tiap kali ada yang komplain soal mood swing-mu, saya diam saja karena menganggap itu biasa. Saya ngerti bahwa ada waktu-waktu dimana kamu gak pingin diganggu, baik karena lagi ada masalah, lagi mikirin sesuatu, atau lagi kepingin sendirian aja. Kalo kamu lagi dalam momen itu, saya udah tau untuk mundur teratur. See, I get you. And I know how to handle you. Dan beruntungnya saya, begitu pula sebaliknya. Buat saya yang sering dicap ribet dan 'susah diraih', entah kenapa berteman denganmu selalu terasa mudah. Tiap aneh saya kambuh dan merasa harus menghilang, kamu memberi jarak. Meski tak sampai lama karena kalau menurutmu saya sudah hilang terlalu jauh, kamu akan gigih mencari lalu merecoki saya untuk kembali. Caramu itu sungguh menyegarkan, membuat tersanjung, karena biasanya teman lain hanya menunggu atau menyerah saja.
Selain humor, sifat, dan mood swing yang sama, selera kita pun banyak yang sama. Rasanya topik atau celetukan apapun yang saya ucapkan, kamu langsung menyambut. Video atau blog apapun yang saya temukan di jagad internet, kamu langsung ngeh dimana letak keseruannya. Musik dan film yang saya suka, tampaknya kamu pun suka. Dalam sebuah situasi, seringkali reaksi atau komen kita sama. Bahkan kadang, ga perlu ngomong pun, saya udah bisa ngebaca kamu. Tapi di antara semuanya itu, tiga benang merah yang paling mengikat pertemanan kita tentu saja adalah: sama-sama penikmat musik 90’an, sama-sama meleleh tiap liat Chris Martin, dan sama-sama sepenuh hati mencintai Alanis Morissette. Hehe.
Saya ingat, waktu pertama kali tau bahwa kamu juga fans berat Alanis, saya berasa ketemu soulmate. Menurut saya orang yang menggemari Alanis Morissette pastilah keren dan punya taste yang keren juga (kayak saya), hehe. Dipikir-pikir, kecintaan kita pada Alanis kadang terlalu lebay. Ingatkah, kita sama-sama membenci Ryan Reynolds dan Scarlett Johansson karena Ryan mutusin Alanis lalu pacaran sama Scarlett? Teori kita: Scarlett adalah penggoda dan homewrecker, sedangkan Ryan adalah pendosa besar yang shallow karena tega selingkuh gara-gara ngiler fisiknya Scarlett. Ahaha, lebay abis... Hm, ngomong soal Alanis, awal tahun 2013 sempet ada gosip kalo Alanis bakal dateng ke Jakarta. Coldplay juga. Begitu denger itu, saya langsung keinget kamu. Walaupun sampe sekarang berita itu belum jelas juntrungannya, saya udah kebayang aja betapa serunya seandainya kita bisa nonton konser mereka. Ah kalo kamu masih ada, kita pasti udah jumpy-jumpy histeris bareng ya?
Waktu kita backpacking bareng dua tahun lalu, saya seneng banget. Karena selama proses perencanaan sampai akhirnya tiba di Semarang, Solo dan Jogja, kita bahu-membahu melakukan riset dan menyiapkan segalanya berdua. Dan yang paling saya suka, kita (bareng Cici) ternyata tipe pelancong yang mirip. Irama kita sama: gak ribet, cenderung santai dan fleksibel dengan itinerary. Prinsip kita adalah soak up the moment dan go with the flow. Kamu juga bisa diajak susah dan mau nekad sehingga perjalanan terasa makin asik. Taukah kamu, waktu itu saya seneng banget karena merasa telah menemukan soulmate traveling yang klop. Seperti keberadaan Justin Lukach yang melengkapi Scott Willson di serial traveling Departures favorit saya, saya merasa, kamulah Justin saya.
Sebagai teman, kamu adalah pendengar yang setia. Saya cerita apapun, baik secara langsung maupun lewat tulisan di blog, kamu pasti menyimak. Bahkan sampai di hari-hari terakhirmu pun, di saat harusnya saya yang mendengarkan keluh-kesah penyakitmu, kamu masih sempat-sempatnya menanyakan kabar saya dan project-project yang sedang saya kerjakan. Masih sempat-sempatnya menanyakan beban hidup saya lalu memberi semangat dan masukan yang sungguh meringankan hati.
Saya percaya semua orang yang dipertemukan Tuhan dalam hidup saya adalah guru, tak terkecuali kamu. Kamu telah mengajari saya banyak hal, namun dua yang utama adalah tentang kesetiakawanan dan semangat pantang menyerah. Dua kualitas itu terutama terlihat bersinar dengan indahnya di hari-hari terakhirmu. Di hari-hari itu saya dan Dorris melihat jelas kesedihan dan kesusahanmu. Siapa sangka, sahabat yang demikian ceria sepertimu ternyata menyimpan luka yang menahun. Untuk tiga bulan terakhir yang berat namun luar biasa itu, tak henti-hentinya saya berterima kasih pada Tuhan karena diberi kesempatan untuk mengenalmu dan keluargamu dengan lebih dalam. Di titik-titik rapuhmu, kamu mengajarkan saya indahnya penerimaan. Dan bahwa humor mengalahkan segala rasa sakit, baik di daging maupun di hati. Darimu saya belajar bagaimana mengulurkan tangan dan berjuang untuk seorang sahabat. Dan dengan itu, kamu membuat saya bertumbuh menjadi orang yang lebih baik. Trimakasih ya.
Cuy, sekarang saya sudah sampai di titik di mana saya sudah bisa berdamai dengan kepergianmu. Tapi satu penyesalan yang bikin saya gemas adalah saya gak akan bisa bersama-sama menua denganmu. Saya gak akan pernah melihat kamu di hari pernikahan saya, gak akan pernah tau siapa yang jadi suamimu, anak-anakmu, dan gak akan pernah bisa melihat kamu meraih semua mimpi-mimpimu. Ah, patah hati rasanya, karena dulu saya sungguh-sungguh mengira kita akan bersahabat sampai tua.
Tau gak, surat ini udah mulai saya tulis seminggu setelah kamu pergi. Itu bulan Desember hampir 2 tahun lalu. Menyelesaikan surat ini gak gampang, berkali-kali saya berhenti karena ngerasa overwhelmed dan kepingin nangis. Menulis sedetil ini tentang kamu, saya bolak-balik harus menarik dan menghembus nafas panjang. Saya merasa kayak menyiksa diri. Tapi saya paksakan diri karena merasa harus menuliskannya. Saya merasa perlu.
Jadi inilah surat sayang saya untuk kamu. Tanda saya akan selalu ingat kamu. Tanda saya bersyukur akan 1.580 hari yang sudah Tuhan pinjamkan untuk kita.
Sekali lagi, terima kasih untuk persahabatan yang super menyenangkan.

*Nangis*
ReplyDelete*ketjup... :)
ReplyDeleteimpossible to read this without tears.beautiful letter for a beautiful friendship.
ReplyDeleteodit - x