Shrek
the Musical: Live in London
Serunya
nonton langsung aksi si Ogre dan teman-temannya di panggung.
Saya merasa beruntung punya kesempatan untuk
mengunjungi London, kota yang terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade 2012.
Suasana kota yang ramai namun teratur, tampak semakin semarak dengan bis-bis
tingkat warna merah dan kereta Underground yang menjadi ikon London. Tujuan
saya cuma satu: nonton teater, aksi yang selalu dibangga-banggakan oleh warga
London sejak dulu. Apa sih, hebatnya?
Theatre Royal yang Bersejarah
Dari semua show yang digelar setiap hari di London, saya tertarik dengan ‘Shrek the Musical’ di Theatre Royal Drury Lane. Selain karena saya penggemar berat si Monster Hijau ini, saya ingin melihat langsung gedung pertunjukan yang tahun ini genap berusia 200 tahun. Beberapa pertunjukan teater klasik seperti ‘The King and I’ (1953) dan ‘Miss Saigon’ (1989) pernah digelar di gedung ini, membuat saya semakin penasaran untuk bisa melihat-lihat di dalamnya.
Tidak sulit kok, untuk menemukan gedung yang
berlokasi di Catherine Street, Westminster ini. Saya yang biasanya hanya bisa
melihat foto-fotonya dari Google Images,
langsung berdecak kagum. Pada bagian depan gedung terpampang jelas billboard
pertunjukan, dengan signage raksasa
berbentuk huruf S gemerlap. Wah, saya sudah berada di tempat yang tepat!
Saya segera mendatangi ticket box yang sudah buka,
walaupun hari masih cukup pagi. Oleh petugas yang ramah, saya dipersilakan
untuk memilih tempat duduk yang saya inginkan. Dan lagi-lagi saya beruntung, saya
bisa mendapat tempat yang paling strategis, persis di tengah, hanya beberapa
baris dari depan panggung. Asyik…! ‘Shrek the Musical’ digelar setiap hari
kecuali hari Selasa, dengan 1-2 kali pementasan; jam 3 sore dan 7 malam. Harga
tiketnya bervariasi: antara £20 – £65 (antara Rp 300,000 – Rp 975,000) per
orang. Lamanya pertunjukan biasanya
sekitar 2 jam 30 menit, terbagi menjadi 2 sesi, dengan 1 kali interval selama
20 menit.
Penuh
dokumentasi
Karena jam pertunjukan masih lama, maka saya
sempat untuk berkeliling menikmati suasana di dalam gedung. Wah, seluruh
sejarah gedung teater ini terdokumentasi rapi dan terawat; di seluruh dinding
gedung terpasang leaflet dan poster
kuno juga foto-foto pementasan dari masa ke masa. Terus terang, saya iri sekali
melihatnya karena di tanah air bisa dibilang hal ini masih kurang diperhatikan.
Tak sabar rasanya saya ingin menyaksikan aksi seru para pemain juga
lagu-lagunya yang menggelitik. Berbekal ingatan dari video-video yang saya
tonton di YouTube, saya berniat untuk ikut bernyanyi diam-diam, hahaha…!
Karena ini adalah pengalaman yang mungkin sulit
terulang, saya tak mungkin pergi dari tempat ini dengan tangan hampa, dong…
karenanya saya tak lupa membeli buku acara dan melihat-lihat beberapa merchandise serba Shrek yang dijual di gift shop: payung, T-shirt, gantungan
kunci, dan sebagainya. Setelah puas melihat-lihat, saya pun istirahat sebentar
di kafe mungil yang ada di gedung ini.
Semua
tepat waktu
Tepat jam 7 malam, pintu ruang pertunjukan pun
dibuka. Karena bertepatan dengan liburan musim panas, banyak sekali anak
sekolah yang sepertinya sedang study tour
yang hadir, didampingi guru-guru sekolahnya. Suasana pun menjadi riuh, namun
tetap tertib. Setelah seluruh penonton memasuki ruangan, pintu kembali ditutup,
tanda pertunjukan yang digelar dengan live
orchestra ini akan segera dimulai.
Benar saja, pertunjukan berlangsung seru sekali!
Koreografi dan tata panggungnya benar-benar profesional. Aksi lucu dari Donkey,
si Keledai (Richard Blackwood), juga Fiona (Carley Stenson), dan Lord Farquaad (Neil McDermott), mengajak seluruh penonton untuk tertawa geli
sepanjang pertunjukan. Ada sekitar 20 lagu yang dibawakan oleh seluruh pemain;
seluruhnya dinyanyikan dengan indah. Waktu pun berlalu tanpa terasa. Sayang,
pertunjukan ini dikabarkan akan berakhir pada akhir Februari 2013 mendatang
setelah 2 tahun dipentaskan. Tapi saya bersyukur, karena pernah menjadi salah
satu orang yang sempat menontonnya langsung. Kapan ya, pertunjukan musikal
seperti ini ada di Indonesia?
Kisah
di Balik Kostum Hijau
Dalam pergelaran ‘Shrek the Musical’ tahun ke dua
ini, tokoh sentral Shrek sukses diperankan oleh Dean Chisnall, menggantikan Nigel
Lindsay yang berakhir masa kontraknya. Dean bukan orang baru dalam dunia
teater lho… karena ia sudah banyak
pengalaman tampil dalam pergelaran teater, antara lain di Never Forget (kisah yang
diangkat berdasarkan lagu-lagu boyband
kenamaan Inggris, Take That) dan Love
Never Dies (sekuel dari kisah klasik Phantom of the Opera).
Saya merasa beruntung karena bisa bertemu Dean di
belakang panggung seusai pertunjukan. Sosoknya sangat ramah dan rendah hati; ia
pun dengan sabar melayani keinginan para penggemarnya untuk berfoto bersama
atau meminta tanda tangan (ada juga lho,
penggemar yang rela membawa bayinya khusus untuk bertemu dengan Dean).
Meski cuma sebentar, tapi saya sempat juga berfoto
dan ngobrol dengannya. Dari obrolan itu, terlihat jelas kalau Dean memang
sangat mencintai dunia teater. “Saya bukan berasal dari keluarga seniman, tapi
sejak dulu saya sadar kalau nyanyi dan teater adalah dunia saya,” jelas Dean.
“Saya tidak dibesarkan di London, tapi demi cita-cita, sepuluh tahun lalu saya
memutuskan untuk pindah dan bekerja di kota ini. Tidak pernah sedikit pun saya
menyesali keputusan itu,” tambahnya. Kerja kerasnya sekarang sudah membawa
hasil, ia bisa dipercaya menjadi peran utama dalam karya besar Dreamworks ini.
“Menjadi Shrek adalah sebuah lompatan besar dalam karir saya. Saya merasa
bangga bisa menjadi bagian dari pergelaran ini,” kata Dean yang harus
menggunakan aksen Skotlandia yang kental saat memerankan Shrek. Sukses terus
buat Dean!
* Mba’
Ita adalah teman kantor, sesama Copy Writer Madya di PKF. She’s a big
fan of musicals. Tahun lalu, Mba’ Ita ke London, Inggris, khusus untuk nonton teater dan ketemuan sama
Dean Chisnall, pemeran utama Shrek The Musical. She’s so lucky!
**All pics: Dokumentasi pribadi Mba’ Ita.





No comments:
Post a Comment