Tuesday, February 5, 2013

FRIEND POST : Ramonita Baradja



Shrek the Musical: Live in London
Serunya nonton langsung aksi si Ogre dan teman-temannya di panggung.

Saya merasa beruntung punya kesempatan untuk mengunjungi London, kota yang terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade 2012. Suasana kota yang ramai namun teratur, tampak semakin semarak dengan bis-bis tingkat warna merah dan kereta Underground yang menjadi ikon London. Tujuan saya cuma satu: nonton teater, aksi yang selalu dibangga-banggakan oleh warga London sejak dulu. Apa sih, hebatnya?


Theatre Royal yang Bersejarah
Dari semua show yang digelar setiap hari di London, saya tertarik dengan ‘Shrek the Musical’ di Theatre Royal Drury Lane. Selain karena saya penggemar berat si Monster Hijau ini, saya ingin melihat langsung gedung pertunjukan yang tahun ini genap berusia 200 tahun. Beberapa pertunjukan teater klasik seperti ‘The King and I’ (1953) dan ‘Miss Saigon’ (1989) pernah digelar di gedung ini, membuat saya semakin penasaran untuk bisa melihat-lihat di dalamnya.

Tidak sulit kok, untuk menemukan gedung yang berlokasi di Catherine Street, Westminster ini. Saya yang biasanya hanya bisa melihat foto-fotonya dari Google Images, langsung berdecak kagum. Pada bagian depan gedung terpampang jelas billboard pertunjukan, dengan signage raksasa berbentuk huruf S gemerlap. Wah, saya sudah berada di tempat yang tepat!

Saya segera mendatangi ticket box yang sudah buka, walaupun hari masih cukup pagi. Oleh petugas yang ramah, saya dipersilakan untuk memilih tempat duduk yang saya inginkan. Dan lagi-lagi saya beruntung, saya bisa mendapat tempat yang paling strategis, persis di tengah, hanya beberapa baris dari depan panggung. Asyik…! ‘Shrek the Musical’ digelar setiap hari kecuali hari Selasa, dengan 1-2 kali pementasan; jam 3 sore dan 7 malam. Harga tiketnya bervariasi: antara £20 – £65 (antara Rp 300,000 – Rp 975,000) per orang.  Lamanya pertunjukan biasanya sekitar 2 jam 30 menit, terbagi menjadi 2 sesi, dengan 1 kali interval selama 20 menit.


Penuh dokumentasi
Karena jam pertunjukan masih lama, maka saya sempat untuk berkeliling menikmati suasana di dalam gedung. Wah, seluruh sejarah gedung teater ini terdokumentasi rapi dan terawat; di seluruh dinding gedung terpasang leaflet dan poster kuno juga foto-foto pementasan dari masa ke masa. Terus terang, saya iri sekali melihatnya karena di tanah air bisa dibilang hal ini masih kurang diperhatikan. Tak sabar rasanya saya ingin menyaksikan aksi seru para pemain juga lagu-lagunya yang menggelitik. Berbekal ingatan dari video-video yang saya tonton di YouTube, saya berniat untuk ikut bernyanyi diam-diam, hahaha…!

Karena ini adalah pengalaman yang mungkin sulit terulang, saya tak mungkin pergi dari tempat ini dengan tangan hampa, dong… karenanya saya tak lupa membeli buku acara dan melihat-lihat beberapa merchandise serba Shrek yang dijual di gift shop: payung, T-shirt, gantungan kunci, dan sebagainya. Setelah puas melihat-lihat, saya pun istirahat sebentar di kafe mungil yang ada di gedung ini.


Semua tepat waktu
Tepat jam 7 malam, pintu ruang pertunjukan pun dibuka. Karena bertepatan dengan liburan musim panas, banyak sekali anak sekolah yang sepertinya sedang study tour yang hadir, didampingi guru-guru sekolahnya. Suasana pun menjadi riuh, namun tetap tertib. Setelah seluruh penonton memasuki ruangan, pintu kembali ditutup, tanda pertunjukan yang digelar dengan live orchestra ini akan segera dimulai.

Benar saja, pertunjukan berlangsung seru sekali! Koreografi dan tata panggungnya benar-benar profesional. Aksi lucu dari Donkey, si Keledai (Richard Blackwood), juga Fiona (Carley Stenson), dan Lord Farquaad (Neil McDermott), mengajak seluruh penonton untuk tertawa geli sepanjang pertunjukan. Ada sekitar 20 lagu yang dibawakan oleh seluruh pemain; seluruhnya dinyanyikan dengan indah. Waktu pun berlalu tanpa terasa. Sayang, pertunjukan ini dikabarkan akan berakhir pada akhir Februari 2013 mendatang setelah 2 tahun dipentaskan. Tapi saya bersyukur, karena pernah menjadi salah satu orang yang sempat menontonnya langsung. Kapan ya, pertunjukan musikal seperti ini ada di Indonesia?


Kisah di Balik Kostum Hijau
Dalam pergelaran ‘Shrek the Musical’ tahun ke dua ini, tokoh sentral Shrek sukses diperankan oleh Dean Chisnall, menggantikan Nigel Lindsay yang berakhir masa kontraknya. Dean bukan orang baru dalam dunia teater lho… karena ia sudah banyak pengalaman tampil dalam pergelaran teater, antara lain di Never Forget (kisah yang diangkat berdasarkan lagu-lagu boyband kenamaan Inggris, Take That) dan Love Never Dies (sekuel dari kisah klasik Phantom of the Opera).

Saya merasa beruntung karena bisa bertemu Dean di belakang panggung seusai pertunjukan. Sosoknya sangat ramah dan rendah hati; ia pun dengan sabar melayani keinginan para penggemarnya untuk berfoto bersama atau meminta tanda tangan (ada juga lho, penggemar yang rela membawa bayinya khusus untuk bertemu dengan Dean).

Meski cuma sebentar, tapi saya sempat juga berfoto dan ngobrol dengannya. Dari obrolan itu, terlihat jelas kalau Dean memang sangat mencintai dunia teater. “Saya bukan berasal dari keluarga seniman, tapi sejak dulu saya sadar kalau nyanyi dan teater adalah dunia saya,” jelas Dean. “Saya tidak dibesarkan di London, tapi demi cita-cita, sepuluh tahun lalu saya memutuskan untuk pindah dan bekerja di kota ini. Tidak pernah sedikit pun saya menyesali keputusan itu,” tambahnya. Kerja kerasnya sekarang sudah membawa hasil, ia bisa dipercaya menjadi peran utama dalam karya besar Dreamworks ini. “Menjadi Shrek adalah sebuah lompatan besar dalam karir saya. Saya merasa bangga bisa menjadi bagian dari pergelaran ini,” kata Dean yang harus menggunakan aksen Skotlandia yang kental saat memerankan Shrek. Sukses terus buat Dean!


* Mba’  Ita adalah teman kantor, sesama Copy Writer Madya di PKF. She’s a big fan of musicals. Tahun lalu, Mba’ Ita ke London, Inggris,  khusus untuk nonton teater dan ketemuan sama Dean Chisnall, pemeran utama Shrek The Musical. She’s so lucky!

**All pics: Dokumentasi pribadi Mba’ Ita.

No comments:

Post a Comment