Love Doesn't Last, Obviously
I’m sooo
flattered when Gracie asked me to write for this blog. Agak-agak minder juga
sih, karena tau isi blog ini beda jauuuh sama sampahan-sampahan yang ada di
blog gw. Udah gitu pas gw tanya tema atau topik apa yang belom ada di blog ini,
Gracie menjawab “Love & Relationship”. Toweweweww… gw langsung ketawa dalam
hati. Kinda’ funny actually, mengingat gw dan Gracie punya kesamaan nasib.
Bersama Yence, Dow-Dow dan Citchy (and our forever-beloved Dinda, of course),
kami dipersatukan di sebuah perkumpulan super iseng, Menye-Menye Girls, yang
syarat utama keanggotaannya adalah… SINGLE! Terus, yekali gw nulis
panjang-lebar tentang love & relationship?!?! Itu hampir sama fatalnya
dengan nge-vote Farhat Abas jadi presiden kita. Tapi karena saking excited-nya
pengen memberi nuansa berbeda buat blog ini, I just can’t think about any other
thing to write.
Proses menulis
postingan ini juga bertambah rumit karena sebenernya gw gak percaya cinta. I mean,
selain cinta Sang Maha Kuasa ke ciptaan-Nya dan cinta orangtua buat anaknya, I
just don’t think true love really exists. Unconditional love? Buat gw, cuma
Tuhan dan para orangtua aja yang bisa melakukannya. Hmmm, gak ada dasar yang
kuat sih dari keyakinan gw ini. Cuma liat dari tingginya angka perselingkuhan
dan perceraian yang terjadi di sekitar gw, pluuuss pengalaman pribadi sama
beberapa lawan jenis. Dari situ, otak gw yang super low-end ini berkesimpulan,
cinta mungkin ada, but obviously it doesn’t last. It fades.
Cinta yang
berbau-bau romantisme 2 anak manusia, buat gw, gak lebih dari sekedar
perpanjangan ego, pride dan napsu. Some couples survive because they feel their
spouses have become routine necessity. Karena udah terbiasa, maka jadi susah
lepas. Contohnya cewek-cewek yang tetep kekeuh gak mau putus dari pacarnya,
padahal sadar banget bahwa dia udah diperlakukan buruk. Contoh lain adalah
istri-istri yang dipoligami dan korban KDRT. Jadi walaupun mereka gak bahagia,
yaaa udah pendem sendiri aja perasaan itu dibalik kata-kata “demi status”,
“demi anak”, “demi nama baik keluarga”, “demi masa depan bersama”, dan
demi-demi lainnya. Plis deh, kalo beneran cinta mah gak nyakitin kaliii.
Aaaahh, kenapa bahasannya jadi serius gini sih?! Terus mana tips love &
relationship-nya??? Eeerrr, gak ada. Hahahaahaaahaaa… *dikeroyok pembaca*
Hmmm, least
useful thing that I can offer is some words I read on Twitter. It said,
“Pacaran adalah interaksi sosial yang direspon emosional, dan menyebabkan
dramatisasi yang gak masuk akal.” I couldn’t agree more with it.
Kalimat itu
yang bikin gw terpaksa menolak beberapa cowok setelah batal married sekitar 4
tahun lalu (Anjrit, sok kecakepan banget lo, Ka! Cih!!!). Oooh, jadi tulisan ini kayak bentuk
pelampiasan sakit hati karena gagal married yah? No, I’m the one who cancelled
the wedding. Karena gw pikir, pacaran dan married itu gak kayak karir atau
kerjaan yang sukses nggak-nya bisa kita tentuin sendiri. Kalo kita perform di
kantor, otomatis kemungkinan naik gaji dan naik jabatan juga jadi lebih besar.
Sedangkan kalo pacaran atau pernikahan, bisa jadi dedikasi yang kita usahakan
gak matching sama apa yang pasangan kita lakukan (silakan kondisikan sendiri
gak matching-nya gimana. à Laaaah, penulis macam apa sih lo??). Dan buat gw, itulah
unhappiness. When you realized that your own self is not enough. Sedih rasanya
kalo kebahagiaan kita ditentukan atau tergantung sama orang lain. Yang tadinya
nyari pasangan buat bahagia, malah jadi kecewa dan nambah-nambahin masalah.
Gw gak anti
pacaran, gak juga anti pernikahan. Tapi yang namanya sukses itu kan pasti butuh
kerja keras, begitupun pacaran, apalagi pernikahan. Sayangnya, gue terlalu
malas mengusahakan suksesnya aspek hidup yang satu itu. However, I still hope
someday I can be married. Soalnya Dalai Lama bilang, “Open your arms to change,
but don’t let go of your values.” And if it happens, if someday I can have a
relationship and getting married, hopefully I will be able to not to put my
whole self into it. Seperti yang dimaksud sebuah kalimat yang juga gw baca di
Twitter, “If relationship becomes painful, let it go and save yourself.
Remember, you will be able to find new love, but never another self.”
* Ika
adalah mantan kolega di Gogirl! yang hingga kini terus jadi teman baik. For years,
Ika was an Editor at Gogirl!, but just recently resigned and now
is on the quest to find her next big adventure. Saya selalu suka tulisannya Ika.
Seserius apapun temanya, Ika selalu punya cara untuk membuat sebuah tulisan
jadi ga intimidating dan ngena. Baca tulisan-tulisan Ika lainnya di sini.
**Pics:
Dokumentasi pribadi Ika. Photo editing & collaging by me.

No comments:
Post a Comment