Wednesday, June 12, 2013

Menyapa alam



Menurut saya, pohon adalah makhluk hidup paling cantik. Jadi waktu ke Kebun Raya Bogor dua minggu lalu, I was really blown away by their tree collections. Banyak pohon-pohon spektakuler di sana. Tua, gagah, dengan batang kokoh berdiameter besar dan tinggi menjulang. Melihat mereka rasanya saya pingin berdiri tegak dan memberi hormat.


Terakhir ke sini saya masih kecil, jadi udah ga inget apa-apa lagi. Makanya kemarin itu saya menjelajah layaknya turis perdana. Meski gerimis dan sedikit mendung, I had a really nice time. Udaranya enak dan adem, bikin betah. Saya juga datang di saat yang tepat, pagi-pagi persis jam buka sehingga belum banyak pengunjung.


Kalo dulu saya paling kagum sama bentuk ranting dan daun pohon, Kebun Raya membuat saya terpesona dengan akar. Ternyata, bentuk dan tekstur akar tuh macam-macam. Ada yang gedenya melebihi ukuran batang, ada juga yang menjulur panjang kayak ular dan nyambung ke pohon-pohon lain di sekitarnya. Trus bentuknya aneh-aneh, ada yang kayak kepala alien, biawak, atau paha cewek seksi. Letak akar juga ternyata ga selalu di bawah menempel tanah, yang jatuh dari atas ke bawah atau mencuat keluar dari samping batang, pun ada. Saya juga melihat banyak pohon yang akarnya labil, alias awut-awutan ga jelas ke mana arahnya. They're all awesome.


Ga cuma pohon, di sini saya juga melihat dari dekat tupai, kijang, burung, jamur-jamuran, dan bunga-bunga teratai cantik. Saya juga ketemu rumpun tanaman berdaun lebar yang alur sulurnya telah menginspirasi alur motif kain ulos Batak. Tapi sayang, bunga bangkai yang biasanya jadi bintangnya Kebon Raya lagi gak mekar, padahal saya penasaran pingin liat dari dekat.


At one point, pas lagi menyusuri area di kiri pagar Istana, berhembus angin besar cukup lama dan membuat semua daun bergemerisik keras. Kadang suaranya menyatu, kadang bergantian mengikuti arah angin. Sapuan angin itu juga bikin rambut dan baju saya berkibar-kibar. Selama beberapa saat, semua yang di sekeliling saya bergerak bersamaan, entah berayun, berputar, atau bergetar. Indahnya bukan main. It was quite a moment and somehow I got a feeling that God was there with me. He put that beautiful show just for me, to greet and to console me. So I stood there and watch, in awe, at how He made the earth dances for me.


Saya selalu percaya, setiap saya sedih, hibur Tuhan tak pernah jauh. Dan kali ini, Ia menghibur saya lewat alam. Ia memakai setiap pohon, tanaman, sulur, dan semua yang saya lihat dan sentuh di sana. Pagi itu, saya memang tiba di Kebun Raya dengan hati dan kepala yang berat, tapi setelah menyapa alam, saya bisa pulang dengan langkah yang lebih ringan. Untung saya ke sini.

No comments:

Post a Comment