Sunday, December 9, 2012

Views from the tastemakers' eyes



Di atas itu potongan-potongan klip dari film In Vogue; The Editor's Eye. Sebuah dokumenter tentang editor-editor mode majalah VOGUE sepanjang masa. Filmnya tayang perdana di HBO 3 hari lalu dan saya belum nonton. Hauhauhauuu... PENASARAN!!!

Pardon my excitement, tapi tumbuh sebagai anak yang maniak majalah, VOGUE adalah salah satu santapan wajib saya selama masa remaja dan kuliah. Buat saya, VOGUE adalah jendela. Halaman-halaman di dalamnya, terutama fashion spread pages-nya, selalu menyuguhkan foto-foto artistik nan segar. Waktu kecil (bahkan hingga sekarang), saya sering banget ga ngerti konsep atau maksud dari gambar-gambar yang terpampang di situ karena mostly they are overly dramatic, aneh, dan kelewat vulgar. Tapi saya merasa selalu ada daya tarik yang memesona di dalamnya. Sebagai anak yang sangat visual, saya merasa terstimulasi.

Saya juga makin penasaran untuk nonton karena film In Vogue; The Editor's Eye menjanjikan inside stories dari para creative minds yang ikut membangun VOGUE hingga berstatus sebagai majalah fashion terbesar di dunia seperti sekarang. Saya terutama penasaran hal-hal apa aja yang bakal diomongin Grace Coddington, Creative Director VOGUE saat ini, yang sering clash opinions sama Anna Wintour. (*I love Grace Coddington by the way, she's one of my favorite Grace besides Grace Kelly and me ^_^)

Speaking of Anna Wintour, I think she's an image genius as well as a marketing genius for doing this documentary. Dibanding editor-editor in chief majalah fashion lain seperti ELLE dan Marie Claire, Anna terkenal pelit memperlihatkan suasana kerja dapur kreatif majalahnya kepada khalayak. In doing that, she's creating this mystery about VOGUE's behind the scenes process. Tapi di situlah letak kejeniusannya, info yang minim itu malah bikin orang makin pingin tau. Working in VOGUE jadi kayak semacam urban legend yang juicy untuk dibahas. Banyak yang mencibir, tapi banyak juga yang penasaran pingin kerja di sana. Menurut saya kondisi itu justru bikin derajat kekerenan VOGUE sebagai sebuah perusahaan dan sebuah pabrik image making, jadi kian melejit.

Inget gak waktu buku The Devil Wears Prada keluar 6 tahun lalu? Kabarnya, Lauren Weisberger bikin cerita itu berdasarkan pengalamannya waktu jadi asistennya Anna Wintour di VOGUE circa tahun 1999-an. Gara-gara buku itu orang jadi bertanya-tanya tentang suasana kerja di VOGUE dan terutama; apakah benar kerja di majalah fashion itu segitu stressful-nya? Untuk menjawab (atau membenarkan?) dugaan-dugaan itu, majalah-majalah seperti ELLE dan Marie Claire satu per satu mengundang kamera TV ke dapur mereka lewat reality show semacam The Hills, Stylista, dan Running in Heels.

Seperti kena wabah aji mumpung, para editor dan fashion director majalah-majalah itu juga berlomba-lomba tampil di layar kaca; Joe Zee jadi editor yang intimidating di The Hills dan jadi mentor di All on the Line, Anne Slowey sok-sokan jadi bos editor galak di Stylista, Nina Garcia jadi juri di Project Runway, Joanna Coles jadi bos di Running in Heels, dan yang paling parah... Zanna Roberts jadi komentator tamu di Fashion Police. Duh, walaupun saya penyuka reality show, deep down saya mikir, ih mereka murahan sekali...

Tapi VOGUE lain. Kelas Anna Wintour terbukti lebih tinggi dari para wannabes itu dengan bikin film The September Issue di tahun 2009. Menurut saya langkah ini keren karena selain it's a freakin' documentary (otomatis derajatnya lebih tinggi dari reality show, dong), isinya juga lebih to the point dan gak intentionally fabricated. Anna juga terus mengangkat kelas VOGUE dengan cermat memilih proyek-proyek yang sekiranya bakal mengangkat kredibilitas majalahnya. Dia bikin Fashion's Night Out, Voguepedia, dan jadi host acara-acara premium seperti The Met Costume Institute Gala dan Fundraiser Obama 2012.

Langkah terbaru yang Anna lakukan untuk memeringati 120 tahun terbitnya majalah VOGUE, adalah mengorkestrasi film dokumenter lain yaitu In Vogue; The Editor's Eye ini. Selain mengupas sisi menarik lain dari majalahnya, yaitu suka-duka para fashion editors yang pernah kerja di VOGUE sejak jaman baheula, Anna juga gak main-main dalam memilih partner. Ia menggandeng HBO, jaringan TV kabel premium yang sudah melahirkan segambreng film-film bermutu macam Boardwalk Empire, Game of Thrones, Mildred Pearce, Sex and the City, Cinema Verite, dan Girls. So yes, very nice move, Anna!


Back to the movie, karna penasaran saya googling review film terbaru VOGUE itu dan nemu komen ini di situs Starplus.com: 

"All of the editors who are interviewed for the film (Grace Coddington, Polly Mellon, Vera Wang and of course, Anna Wintour, among others) have similar qualities you’d expect: strength, tenacity and fierce intimidation, but at the same time, each has a distinctly unique personality that is as precious as their legacies are respected.
          What is immediately fascinating about these women is the common thread they all share in that none of them seem to have much experience in talking about precisely what is they do. The very first question posed to each of them (individually) is the most basic question that happens to double as the film’s premise: What does a fashion editor do? None of them have an answer. 
          But the question is ultimately answered in different ways: be it through the steadiness of Wintour’s queen-like hand, or Tonne Goodman’s eloquent explanation of her love for simple, classic style, or Carlyne Cerf de Dudzeele who appears on camera with a genuine I-don’t-give-a-damn demeanour and makes one understand her approach: I love it and don’t care if idiots disagree..." 
          (Tulisan lengkapnya bisa dibaca di sini)

Ahaha, saya jadi makin kepingin nonton! (*Zakiiiiii... I SEE YOU! Pull some strings for me, would you??? Kalo ada screening atau nobar, undang gw yaaa!)

No comments:

Post a Comment