Thursday, March 10, 2011

Menantang arus


Di era teknologi informasi yang kebangetan canggih kayak sekarang, anehkah bila saya sering merindukan saat-saat di mana hidup berjalan lebih lambat?

Dulu, informasi terhambat jarak dan teknologi sehingga ketidaktauan dimaklumi. Sekarang, seseorang yang terlambat tau langsung diremehkan, ditatap dengan pandangan “Hah, lo baru tau???", lalu disemprot dengan kalimat, “Kemane aje looo???”.

*Padahal kalo dipikir-pikir, bobot dan urgensi infonya juga ga penting-penting amat. Apa urusan saya kalo ternyata si X udah seminggu pisah ranjang sama suaminya, atau si Y kemarin menghadap si bos untuk mengajukan surat resign, atau pacar si Z ternyata mantannya Rieke Dyah Pitaloka??? Arghhhhh gak meaninggg!!!!!

Yang lebih nyebelin lagi kalau ketidaktahuan akan suatu topik itu terjadi berulang-ulang, si “terdakwa” harus siap dicap lelet, ansos, kebangetan cuek, atau dicap nggak asik karena ga up to date sama tren.

*Ck, padahal si “terdakwa” itu bukannya telat tau atau nggak tau, tapi memilih untuk nggak tau. Buatnya, hal-hal yang diributkan itu bukan prioritas dalam hidupnya dan nggak perlu dibahas sampe berbusa-busa.

Arus informasi yang kian cepat dan mudah juga membuat manusia jadi minim usaha. Penyampaian berita jadi kehilangan maknanya. Berita duka cita disampaikan via SMS, ucapan selamat ulang tahun cukup diposting di wall Facebook, undangan pernikahan cukup diposting di milis. Sapa dan berbalas rindu pun cukup dilakukan via instant messaging. Praktis memang, dan murah. Tapi sentuhan personalnya hilang. Bobot momennya terasa memudar.

*Ah, saya rindu menerima berita pernikahan dari mulut si calon pengantin langsung, menatap binar bahagia di matanya, dan mengucapkan selamat sambil memeluk pundak atau menggenggam erat tangannya. Saya rindu membaca tulisan tangan dalam sebuah surat pos, bukan hasil ketikan di email. Saya juga sudah muak menerima update kabar teman dari YM, mendapat undangan pernikahan dari wall Facebook, dikirimi ucapan selamat ulang tahun dan selamat natal dari SMS, dan sebal sesebal-sebalnya harus menyelami perasaan seorang sahabat dari tulisan-tulisan blog atau Twitter-nya.

Dulu, sebelum internet ada, mendapatkan informasi memang lebih sulit. Tapi proses mendapatkannya itu yang bikin maknanya berlipat ganda. Setiap informasi akan tertanam kuat dan bertahan. Sekarang, tinggal klik Google search, kita bisa tau ini-itu, tapi infonya hanya melekat sekelebat saja.

*Saya juga rindu merasakan kejutan-kejutan kecil dalam hidup, seperti menonton sebuah film bagus tanpa melihat trailer-nya sebelumnya; menemukan sebuah buku bagus tanpa membaca resensinya sebelumnya; mendengarkan lagu dari CD asli, bukan hasil download Mp3; menonton serial TV per episode per minggu, bukan hasil ngebut maraton DVD bajakan; dan belajar vocabulary dari kamus atau ensiklopedia, bukan hasil nge-klik Google Translate atau Wikipedia.

Dulu, sebelum teknologi ada, orang-orang bilang hidup lebih ribet. Tapi saya justru gerah karena kini dunia terlalu ribut. Informasi berputar terlalu cepat. Banyak orang dengan sukarela terjebak dalam putarannya, berpusing dari satu titik ke titik lain, tanpa sempat berhenti sejenak untuk menyerap pengalaman yang menyertainya. Entah mencari apa, entah untuk memuaskan siapa. Saya tidak mau seperti itu.


1 comment: