
Consciousness
Tahun lalu, salah satu resolusi saya adalah mulai berusaha belanja produk fashion yang ‘made in Indonesia’. Ha ha... sempet diketawain dan ketawa sendiri juga sih dengan ide ini. Sok sok idealis gimaanaa gitu kayanya. Ini gara-gara akhir 2009 lalu saya baca berita di koran yang bilang beberapa industri garmen bangkrut dan nyaris tutup karena serbuan barang impor yang harganya sangat murah. Wajar sebetulnya kalau yang namanya konsumen pasti nyari yang murah, apalagi yang modis kaya saya gini (baca: modis = modal diskon).
Hm... kemudian saya inget salah satu cerita pengusaha Batik Lasem di Rembang, Jawa Tengah. Ia hanya bisa menggaji karyawannya Rp 10.000/orang/minggu. Saat itu (tahun 2006 awal) adalah masa sulit bagi pengusaha UKM mendapatkan kredit usaha ditambah sebagian orang masih ngga ‘sadar’ darimana asal tingginya nilai jual (dan seni) dari selembar kain batik. Untuk menutup cost produksi dan untuk menghargai sulitnya proses sebuah batik tulis memang membuat kain batik itu punya harga istimewa.
Well balik lagi ke resolusi saya, tahun 2010 saya berhasil untuk selalu membeli produk fashion yang ada tulisan made in indonesia-nya. Baju, kerudung, pantalon kerja, pernak-pernik aksesoris, dsb. Tas anyaman yang cantik dari Yogya, sepatu berbahan tenun ikat dari Garut (atau Baduy ya? Saya lupa), pantalon kerja dan aneka jilbab yang pabriknya ada di Bandung, sandal dan pernak-pernik aksesoris dari Bali, rak majalah dari Pekalongan dan 2 lembar batik tulis dari Lasem. Oya, kain batik tulis ini adalah salah satu upaya NGO merevitalisasi industri batik di Rembang yang saya ceritakan tadi. Ternyata kualitas produk fashion dalam negeri juga ga kalah wokeh dan melihat label made in Indonesia itu banggaa rasanya! Yeay!
Nah tahun ini, salah satu resolusi saya adalah mulai lebih sayang sama bangsa sendiri. Mulai puasa ngomong, “Dasar orang Indonesia”, “Yah, namanya juga Indonesia”, “Ngga heran lah Indonesia gitu lho”… karena sebetulnya buanyaaak banget potensi SDM dan SDA yang bisa mensejajarkan kita dengan bangsa-bangsa maju di dunia. Ini cuma perkara salah asuh aja, saat minder dan ngga PD dengan potensi bangsa sendiri. Ck, sepertinya efek 3,5 abad dijajah nih.
(Alm.) kakek-kakek saya adalah pejuang PETA dan perwira di Angkatan Udara. Saya pernah dikasih lihat bekas luka peluru tembus di punggung beliau, sisa perang kemerdekaan. Harga yang harus beliau bayar untuk saya bisa menghirup udara bebas di tanah yang merdeka ini. Saya ngga perlu bangun dengan rasa cemas mendengar desingan peluru di atas rumah, atau berjalan ke sekolah dan ke kantor dengan dikuntit tatapan tentara bersenjata, saya juga bebas membaca buku apa saja yang saya mau dimana saja, saya bebas ikut komunitas apapun untuk mengembangkan wawasan, bisa lembur (doh!) tenang tanpa was-was sama bunyi sirine jam malam. Kalau dibandingkan dengan beberapa negara yang sedang ‘rusuh’ cukup pantas rasanya untuk bersyukur.
Saya mulai berpikir, dengan umur yang udah banyak gini *gluk* ngga berlebihan kayanya kalau sudah saatnya berbuat untuk negeri. Ngga mesti jadi politisi atau pendekar partai tertentu sih. Cukup mulai aja dari diri sendiri. Kesadaran untuk lebih cinta sama negeri ini. Saya mengernyitkan dahi saat sebuah majalah wanita ternama begitu bangga menyebut bangsa barat yang punya budaya ‘say sorry’ dan membukakan pintu untuk wanita saat turun dari mobil dan membandingkan ‘orang Indonesia’ yang ngga punya kebiasaan serupa. Mengapa masih tersilau-silau sama Eropa dan Amerika alih-alih membangun kesadaran serupa? Sedihnya lagi, di akhir artikel itu si penulis menyisipkan kalimat “Yah, namanya juga Indonesia...” huhu… padahal dia juga bernapas di tanah Indonesia..
Kata saya budaya timur punya aura yang lebih hangat. Contohnya, kita masih menempatkan orang tua di porsi yang tinggi dan meghormati tetangga. Saling menolong dan tidak hidup individualis. Being individual menurut saya bagus pada porsi-porsi tertentu. Being peduli dan memperhatikan tetangga juga punya ukuran bagus jika porsinya ngga berlebihan.
Serem kayanya kalau kita menemukan tetangga yang meninggal sudah berhari-hari dari bau menyengat. Padahal jenazah juga harus diperlakukan dengan baik dan layak. Terlalu mau tahu urusan tetangga juga ngga bagus, meskipun asal katanya adalah peduli. Jadi gosip-gosip a la belanja pagi di gerobak sayur juga ga asik. So, menurut saya bukan masalah ‘timur- barat’, ‘kalau di sono-kalau di Indonesia’, itu kayanya berpulang sama kualitas masing-masing individu. Di berbagai belahan dunia dijamin deh selalu ada orang-orang yang ambil peran jadi orang yang usil, iseng, pengen tahu urusan orang. Ngga cuma di Indonesia. :)
Buat saya, peradaban di Indonesia juga sudah maju kok dan cukup pantas bersanding dengan negara lain di dunia. Dan kesilauan pada budaya barat sebetulnya bisa jadi nilai pelengkap yang indah untuk budaya timur yang hangat. Kalau kata saya misalnya, beberapa kawasan masih terbelit kemiskinan dan belum melek internet misalnya, itu bukan salah ‘orang Indonesia’nya tapi memang sistem birokrasi (tools-nya) yang masih ketinggalan jaman untuk mengatasi kondisi itu. Saya beberapa kali disadarkan sama artikel-artikel yang dikirim orang via Facebook atau email tentang betapa kayanya negara kita. So, daripada kita kecolongan lagi, mengapa ngga memulainya dari diri sendiri?
Mulai dari diri sendiri. Daripada ngomel jalanan macet saya akan mulai untuk ngga nyeberang seenaknya (kan udah ada zebra cross sama jembatan penyeberangan), nyetop atau turun angkot sembarangan yang akibatnya bikin macet, atau berhenti pura-pura buta warna dengan tetep melintas meskipun lampu udah merah dengan alasan “ngga ada polisi ini” (kalau yang ini sih saya ngga pernah, tapi sering liat. He he). Mulai efektif menggunakan fasilitas kantor, lebih sering pergi wisata museum dan kota tua misalnya untuk lebih tahu budaya bangsa sendiri, daan masih banyak lagi.
Semoga saya berhasil melakukan resolusi ini dan di sepanjang tahun-tahun mendatang. Doakan saya ya...!
*Midya is a dear friend. She's the editor of K-Link Indonesia and a teacher at Pendidikan Adik Asuh Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar. Read Midya’s other writings here.
**Photo: Taken from KumKum’s event at Museum Mandiri, 18 April 2010. Midya is the one wearing a hijab and a pink top. She’s talking to Mrs. Indra Tjahjani, a lecturer at Bina Nusantara University and a batik enthusiast.
No comments:
Post a Comment