Tuesday, April 5, 2011

For the love of words, just write


"Kemudian sambil duduk-duduk di Oranjeplein dengan makan kacang goreng dan minum es krim,
Paman menganjurkan aku untuk mulai melatih dan membiasakan menulis.
Pilihlah setiap kata menurut makna yang dikandungnya dan kemudian susun kata-kata itu menjadi kalimat hidup yang bertutur kepada kegelapan dan ketidakpedulian.

Tunggulah gemanya.

Bila bergaung, betapapun lemah suaranya, kirim lagi kalimat-kalimat lain hingga terangkum menjadi kisah yang mengandung pesan tertentu bagi nurani manusia. Jadikan tulisanmu itu sebagai cara kau melihat, cara kau berpikir dan merasakan, cara kau hidup, cara kau memposisikan kemanusiaanmu.
Dan siapakah yang bisa mengubah, bahkan memupus pandanganmu, meredam pikiranmu, melenyapkan pesanmu, mematikan nuranimu?
Tak ada seorangpun, tandas Paman. Kau bisa mati tetapi tulisanmu tidak."

-Daoed Joesoef-
Dikutip dari buku "Emak" (penerbit KOMPAS)



Emak adalah salah satu buku favorit saya. Sebuah memoar indah dan sarat inspirasi dari Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 1978-1983, tentang ibunya, Siti Jasiah.

Pertama kali membacanya di tahun 2007, saya pikir buku ini hanya akan berisi memori masa kecil Pak Daoed dan cerita-cerita tentang Ibunya. Tapi ternyata tidak, isinya begitu luas. Personal memang, namun juga mencakup persoalan bangsa kita masa itu, seperti perjuangan merintis kemerdekaan, terbatasnya pendidikan, terkungkungnya kebebasan berpendapat, dan hak-hak wanita yang masih termarjinalkan.

To me, Pak Daoed is a tripple threat. Beliau seorang penulis yang hebat, tokoh pendidikan hebat, dan juga negarawan hebat yang harus ditiru. Melalui Emak, beliau sukses membangkitkan rasa nasionalisme saya, juga memperkuat semangat menulis dan semangat bersekolah saya. Saya pikir setiap generasi muda Indonesia harus membaca buku ini.


No comments:

Post a Comment