Thursday, November 18, 2010

FRIEND POST : Astri Wahyuni



Merawat Persahabatan


Satu nafas terhembus adalah kata

Angan, debur, dan emosi tercampur

Dalam jubah terpautkan,

Tangan kita terikat

Bibir kita menyatu

Maka setiap apa yang terucap

Adalah sabda pandita ratu

Di luar itu pasir

Di luar itu debu

Hanya pasir meniup saja lalu hilang

Terbang tak ada

Tapi kita tetap menari

Tarian cuma kita yang tahu

Jiwa ini adalah tandu

Duduk saja, maka akan kita bawa semua

Karena kita adalah satu

(Dari film Ada Apa dengan Cinta, 2002)


Saya mungkin bukan manusia paling supel se-dunia. Saya tidak pandai membuat kesan pertama yang indah. Jabat perkenalan lebih banyak saya ikuti dengan observasi, mencari celah untuk mengakrabkan diri. Saya tidak punya banyak stok lelucon yang seketika membuat orang bisa tertawa. Pun tidak terlalu pandai memanggil ulang berita-berita terbaru yang sudah saya baca untuk memeriahkan cakap. Banyak orang salah menilai saya saat pertama jumpa. Saya maklum, kadang orang membeli buku hanya karena sampul luarnya yang lucu.

Mengetahui saya sedemikain absurdnya, saya selalu berusaha merawat sahabat-sahabat yang mampir dalam hidup. Persahabatan untuk saya seperti berbagai macam jenis bunga. Ada yang musti ditelateni setiap hari supaya kerap bersih dan bebas dari rumput liar. Ada juga yang minim perawatan... cukup sesekali dijenguk, daunnya tetap rimbun. Ada pula yang kebutuhannya hanya perlu disiram air tidak perlu dipupuk terlalu sering. Meski berbeda perawatan, pada akhirnya bunga indah warna-warni yang sedap dipandang mata yang saya nikmati.

Ah sejuta cerita juga mampir saat saya merawat mereka. Kadang tergores duri, bikin hati sedikit terluka. Atau tiba-tiba daunnya bolong dimakan ulat, membuat saya sadar mungkin kurang merawat. Ada juga yang bunganya terlambat berkembang, sudah ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Meski kadang saya sibuk, absen tidak bertemu, atau lupa ulang tahun, mereka tidak pernah pergi. Buat saya itu sudah lebih dari cukup.

Hmm coba lihat, ada pertemanan saya yang umurnya sudah 19 tahun. Menjalin persahabatan dari masa bocah ingusan ketika SD, sampai kini menjadi konsultan arsitektur gratisan. Lalu ada sahabat-sahabat masa SMP dan SMA yang juga awet hingga sekarang, tidak lupa gank yang saya temui ketika kuliah. Gank Cameners (dulu singkatannya Cacat Mental, karena kita seriing banget melakukan hal-hal gak jelas), isinya 4 orang perempuan spesial yang sekarang tersebar ke penjuru negeri. Lalu ada gank Ketawa Bodoh, beranggotan para pengejar mimpi yang tanpa terasa sudah 10 tahun terjalin. Serius, sama ibu-ibu ini saya bisa ketawaa sampai nangis, hanya karena hal kecil. Ada juga beberapa sahabat dekat masa kuliah yang juga awet sampai sekarang, faham segala rahasia, yang tau hati saya hanya sekali lirikan saja.

Semuanya saya temui dari masa yang berbeda. Mereka juga melihat saya dengan kemasan yang tidak sama. Karena saya juga bertransformasi. Tapi, satu hal yang pasti, di hadapan mereka saya tidak pernah takut menjadi diri sendiri. Saya bebas berekspresi. Mulai nangis bombay karena putus cinta, gundah gulana karena cita-cita, sampai curhat cengeng gak penting tentang hidup... Tidak ada yang menghakimi saya atas semua pilihan, juga tidak pernah ada yang nyebelin dengan bilang “tuh kaan, apa gue bilang!”. Untuk mereka, saya mampu memaafkan dan melupakan, dan gengsi tak menghalangi saya untuk meminta ampun duluan. Dengan caranya masing-masing mereka selalu menjadi cheerleader dalam hidup saya. Sesuatu berkah yang selalu saya syukuri.

Semakin kesini saya semakin sadar, menemui teman sejiwa tidak lagi mudah. Waktu kebanyakan menggerus semuanya. Karena kita disibukkan dengan hidup mendewasa. Kumpul bareng mereka selalu saya tunggu. Disitu saatnya waktu membeku. Seperti mesin waktu, kami semua bisa melebur sempurna. Tak peduli jarak, tak kenal waktu. Meski tak jumpa satu minggu, satu bulan bahkan satu tahun. Ketika tatap muka terjadi, waktu menjadi milik kami. Apalagi namanya jika berkumpul bersama teman sejiwa lalu mampu tergelak tawa kalau bukan surga?

Merawat mereka saya selalu berusaha hadir pada saat-saat penting, kalaupun alpa, saya tak pernah lupa mengirimkan doa. Saya ingin bisa punya kekuasaan penuh atas detik yang berjalan. Sehingga kapanpun mau saya bisa memeluk mereka erat-erat atau sekedar menepuk pundak. Saya ingin mereka tahu, ruangan hati saya tak pernah terlalu sempit untuk menampung gundah gulana. Karena dari dulu rumusnya tetap sama: Susah dibagi dua, dan senang dikali dua.

Sahabat, kita adalah satu. Mengukir kemarin, hari ini dan masa depan. Kita adalah saksi hidup atas ulat yang perlahan menjadi kupu-kupu. Karena pada akhirnya, mengetahui kita tidak sendirian mampu menjejakkan rasa teduh di sudut hati.

Ah... saya tiba-tiba merindu.


*Ai is a dear friend. She’s a mother of three and currently working as Assistant Manager in Unilever. To me this post is diamond. Having her, one of my dearest friends, wrote about a topic that is so close to me, is really heartwarming. Read Ai’s other writings here.


1 comment: