Hmmm, menyambung posting sebelumnya, this time I want to write about my heritage...
Keluarga saya masih Batak totok. Masih sangat mempraktekkan adat, tradisional, and (sadly) a bit conservative. Untungnya nggak kolot-kolot amat karena walau sistem patriarki masih dijunjung tinggi, tapi perempuan nggak termarjinalkan. Semua keturunan perempuannya dibebaskan (dan didukung) untuk sekolah setinggi-tingginya. Saya dan sodara-sodara cewek bebas berpendapat, bebas ketawa ngakak dan duduk ngangkang (asal pake celana), boleh-boleh aja pulang larut malam asal jelas alesannya, bebas clubbing, bebas kuliah di jurusan dan kerja di bidang apapun, diperlakukan adil dalam pembagian materi ataupun warisan, nggak dijodohkan a la Siti Nurbaya, dan nggak diharuskan nikah on our twenties. Yang masih dilarang keras adalah nikah beda agama. Mereka juga (secara halus tapi terus-menerus) meng-HARUS-kan kita untuk nikah sama sesama Batak juga! Hehehe, untungnya saya pribadi nyarinya dan emang pingin nikah sama Batak juga, jadi no problem. Yang kasian adalah beberapa sodara (I won’t say names, mehehe) yang doyannya bule, Cina, Padang sama Jawa.. mereka masih dalam tahap negosiasi sengit sama keluarga besar.. dan tampak bakal kalah total.. dududuuu…
Subjectively, saya menilai generasi Ompung dan Ayah saya cukup sukses dalam memelihara, mempraktekkan dan mewariskan adat, terutama menumbuhkan pride “I’m Bataknese” di semua keturunannya. Ayah saya dan adik-adiknya adalah generasi ke-12 Silaban, so that makes me and all my generations keturunan ke-13. Btw, nomor urutan ini penting banget. Karena biasanya dalam setiap perkenalan sesama Batak, pertanyaan kedua setelah “Namamu siapa?” dan “Marga atau borunya apa?” adalah “Kamu nomor berapa?”. Kalau sampai nggak tau nomor, atau lebih parah lagi bermuka bingung lalu malah ngasih nomor Hp, please be prepared untuk diketawain, diremehkan, atau lebih parah.. dicap Batak bego yang buta adat! Like a domino effect, bisa-bisa ortu kamu juga kena judgement, dicap ortu yang nggak bisa ngedidik anak. Lebay sih, tapi ponomoran ini emang penting karena menentukan posisi seseorang dalam peradatan dan jadi kunci untuk tau panggilan-panggilan dalam adat Partuturan. Sadly, biarpun hafal mati nomor (13 dari Sihombing-Silaban, 17 dari Sihombing-Lumbantoruan), saya tuh 95% bego dalam hal Partuturan! Entah kenapa selaluuuu kebingungan! Padahal udah berapa kali diajarin, bahkan sempet juga belajar sendiri lewat baca buku adat, tapi still kaga nyantol di otak! Hiks, makanya untuk yang satu itu saya minderan banget... mendingan melancarkan strategi “diam-senyum-manggut-manggut” di setiap pembicaraan Partuturan. Daripada salah omong...
Back to topic, Ayah dan adik-adiknya cukup sukses mendidik generasi kami karena saya dan sebagian saudara satu Ompung ngerti dan bisa bahasa Batak. Kita juga nggak cuek sama tata cara, mengerti pentingnya adat, dan ngerti urutan-urutannya. Kita juga paham garis besar adat Partuturan. Ini semua berkat mereka yang ‘memaksa’ kita untuk tau dan belajar. Selalu menurunkan semua sejarah keluarga dan nggak bosan-bosan ‘menyeret’ anak-anaknya untuk ikut acara-acara keluarga. Dan jangan salah! Di acara-acara itu kami kaga boleh banget cuma datang setor muka, salaman, trus mojok sendiri atau ngerokok di luar! Nope, kita harus duduk di dalam dan mengikuti langsung seluruh prosesi. Dulu keknya BT banget dipaksa-paksa gitu, tapi setelah besar gini baru kerasa manfaatnya, baru tertuai hasilnya.
No comments:
Post a Comment