Tuesday, March 17, 2009

Kampungku



Saya bersyukur, walau terhitung anak kota karena lahir dan besar di Jakarta, saya masih punya kampung. Kampung saya adalah sebuah desa bernama Silaban Margu. Yup, satu desa ini isinya semua marga dan boru Silaban yang beranak pinak dari sekian ratus tahun lalu. Letaknya di Sumatera Utara, tepatnya di Tapanuli Utara Kecamatan Lintong Ni Huta. Bersebelahan dengan pasar Siborong-borong dan kota Dolok Sanggul. Kalau dari Medan, jauhnya kira-kira 8 - 9 jam perjalanan by car. Kalo lagi nggak ada yang dikejar, keluarga saya biasanya main-main atau nginep dulu di Danau Toba, baru besoknya melanjutkan sisa perjalanan.

Foto di atas itu diambil tanggal 22 Juni 2007 lalu, persis sehabis saya ziarah ke makam Ayah dan Ibu. Jalan dan daerah ini namanya Nagatimbul, kira-kira 1 km dari rumah Ompung. Di belakang saya itu HKBP Silaban, satu-satunya gereja di desa yang dibangun seratusan tahun lalu. Kalau angle foto itu wide, di sebelah kiri akan terlihat rumah keluarga besar Kak Nur. Dan kalau kita berjalan kira-kira 10 m ke arah sebelah kanan foto, disitulah letak makam keluarga besar saya.

Ini makam Ayah, Ibu dan keluarga besar saya. Disini dimakamkan seluruh keluarga, dimulai dari Amang Mangulaki Raja Kores, Buyut yang merupakan generasi ke-10 Silaban. Kakek saya, Ompung Karel Silaban juga dimakamkan di sini. Kuburan ini modelnya lurus memanjang, kalau ada yang baru meninggal, sang almarhum akan dikubur di samping orang yang terakhir kali meninggal. Baris-berbaris hingga kuburannya makin lama tambah panjang. Salib di sebelah kiri itu makam Nenek, Juliana Lumbangaol. Di sebelahnya persis adalah makam Ayah dan yang ada nisan hitamnya itu Ibu saya. Sedangkan salib coklat yang paling kanan itu makamnya Uda Monang, adik Ayah. Tanahnya belum sempat ditumpuk biar tinggi kayak yang lain karena meninggalnya baru banget. Odit pernah liat foto ini, dia bilang tempatnya keliatan serene banget. I absolutely agree! Oya, di belakang kuburan itu adalah hutan milik keluarga, yang tanahnya membentang sampai jauh berkilo-kilo ke belakang. Kalau diperhatikan lagi, di sebelah kiri bawah foto terlihat sedikit ujung akar sebuah pohon besar. Ini gambar lebih jelasnya:

Saya nggak tau apa nama jenis pohon ini. Tumbuhnya persis di atas kuburan; tinggi, besar, gagah. You know, saya selalu mikir semua sari-sari tubuh orang-orang yang dimakamkan disini pasti bersatu padu jadi ‘pupuk’ sang pohon. Scary sekaligus sentimentil, karena saya menganggap kehidupan orang-orang yang meninggal itu nggak terhenti dan fisiknya nggak terurai tersia-sia, tapi tetap ‘hidup’ karena tersalurkan ke pohon itu. Di Tapanuli Utara, most graves biasanya dibangun lebih solid, dengan semen dan berlapis keramik. Tapi keluarga saya tetap mempertahankan tradisi nenek moyang yang model kuburannya menyatu dibawah pohon begini. Saya setuju banget, karena kesannya eksotis dan keren aja gitu hehehe..

Ini tampak belakang kuburan. Itu saya lagi sibuk mencabuti rumput-rumput liar dan Lora lagi meraih sapu lidi untuk menyapu daun-daun kering. Di tradisi Batak, keluarga yang ziarah harus membersihkan kuburan, jadi kami gotong-royong deh!

Ini saya lagi mencuci bersih nisan Ibu, Tonggor Arsina Sihombing. Kangen kangen kangennn...

Diatas itu tugu Moyang saya, Datu Mangambe Silaban. Tugu ini adalah landmark sekaligus pintu gerbang yang pasti dilewati setiap memasuki kampung Silaban. Datu Mangambe adalah Pangeran, anak kedua dari Ompu Di Raja Di Oma-Oma. 2 orang anak lainnya adalah Datu Bira (sulung) dan Datu Guluan (bungsu). “Datu” dalam bahasa Batak artinya Dukun atau Orang Pintar. Jaman dulu, waktu agama Kristen belum masuk, Datu adalah orang yang paling hebat. Menurut sejarah, Moyang saya ini punya ‘ilmu’ menggaet perempuan. Cuma dicolek doang, perempuan langsung ngikut di belakangnya! Makanya istrinya banyak. Tapi uniknya, semuanya ngambil istri orang.. ga ada yang gadis ting ting! Hmmm, kira-kira apa ya alasannya? Anyway sebenarnya istri Datu Mangambe totalnya ada 7, tapi di tugu cuma ditaro 4. Yang pertama boru Sianturi, yang kedua Nainggolan, ketiga Manurung dan keempat Simanjuntak. Saya dan keluarga adalah keturunan dari istri pertama. Hehehe kalo mau lebay, gendut-gendut begini saya masih keturunan Raja siahhh! Puteri berdarah biru bo.. bahahahaaaa!!! Btw, Kak Nur pernah cerita, dulu waktu dia masih kecil ada pesta di Tugu itu. Pas acara, roh Datu Mangambe-nya ‘datang’. Tapi bukannya takut, orang-orang disitu malah minta diturunin ‘ilmu’, biar bisa gaet cewek segampang dia. Tapi Sang Datu nolak, dengan bijak bilang kaga boleh.. cukup dia aja.. biar keturunannya kaga poligamian kayak dia. Bahahaaa.. this is real story loh, Kak Nur liat sendiri!

Kalau yang ini adalah danau kampung saya, Tao Silaban. Dari rumah Ompung jaraknya kira-kira 3 km. Legenda Tao ini long story, seru dan banyak mistisnya. Awal terbentuknya jadi danau sih agak mirip legenda Tangkuban Perahu, tapi beda versi. One upon a time... dulu ada kakak beradik yang berantem. Saking emosinya mereka lempar-lemparan piring dan lesung. Lemparannya jauh-jauh, yang piring mendarat di Lintong Ni Huta (kecamatan sebelah) dan yang lesung mendarat di Silaban. Entah gimana, spot tempat lempar-lemparan itu mengeluarkan air dan jadi 2 danau. Mistisnya, air dari kedua danau ini nggak bisa tercampur. Kalau disatuin di satu wadah airnya bakal berantem, bergolak kaya air mendidih. Pernah ada anak yang penasaran, dia iseng nyampur kedua air ke dalam satu botol dan berakhir nahas. Selain itu orang-orang kampung saya percaya, Tao ini ada yang ‘nunggu’. Kalau penunggunya lagi ‘datang’, air danau bakal berubah kemerahan. Mistisnya lagi, nggak sembarang orang bisa mandi, berenang, atau nyuci di Tao ini. Harus yang bermarga atau keturunan Silaban! Kalau ada marga selain Silaban yang nekat, pasti bakal ‘ditarik’ tenggelam. Dan ini memang udah terbukti sampai sekarang. Kak Nur dan Kak Pita melihat dengan mata kepala sendiri beberapa kejadian. Kak Pita ada waktu si anak yang nekat nyampur air 2 danau di-‘tarik’ dan tenggelam. Kak Nur lebih heboh lagi. Dia cerita dulu pernah ada seorang Bapak yang pedatinya di-‘tarik’ lalu terburai sampai mur-mur pedatinya kelepas. Karena harga pedati mahal, si Bapak ogah rugi. Dia pun bikin sajen. Tepat jam 12 siang, jeng jeng jengggg.. si penunggu ‘mengantarkan’ kembali pedatinya itu dari dalam Tao. Utuh! Padahal semua orang liat sendiri pedati itu tadinya udah hancur! Huhuhuuuu... saya masih merinding kalo ingat cerita itu! Padahal kalo diliat fotonya, Tao itu tampak damai dan romantis ya? Dan tempat main yang seru juga loh! Dulu waktu kecil, tiap pulang saya pasti main di Tao ini, dari nemenin sodara nyuci baju sampai nangkepin ikan-ikan kecil pakai jaring! Well, tapi saya kan Silaban 100%, so i guess that’s why I’m OK. Oya, see that mighty tree? Pohon ini namanya Jabi-Jabi, atau Beringin dalam bahasa Indonesia. Ukuran pohonnya bukan huge lagi, tapi massive! Coba aja bandingin sama ukuran manusia yang lagi nyuci di sebelah kiri atau yang lagi naik sepeda di sebelah kanan, kebayang dong gedenya! And you know what, dibawah Jabi-Jabi inilah makamnya Ompu Di Raja Di Oma-Oma beserta seluruh keturunannya, termasuk Datu Mangambe dan semua istri-istrinya!!! Keren yaaaa..! Kata Kak Nur, dulu tiap ada ranting atau dahan yang patah trus jatuh ketanah, orang-orang kampung percaya sebentar lagi bakalan ada yang meninggal! Wawww!!!

Ini sebagian sawah keluarga saya...

Di Silaban, begini kalau ada yang kawinan.
Penganten dan rombongan jalan rame-rame menuju tempat acara...

Kalau foto ini lokasinya bukan di Silaban, tapi di kota Tarutung.
Saya agak melenceng dikit karena cuma mau nunjukin kalau suku Batak punya aksara atau hurufnya sendiri. Tulisan di papan nama jalan ini contohnya...

Yah... begitulah kampung saya... Huahhh! this is the hardest posting ever; capek ngumpulin cerita, capek riset, capek nulissss!

*Pics taken by Lora, Ronal and me, on our fabulous yet hectic trip in June 2007


No comments:

Post a Comment