Monday, July 18, 2011

Mimpi tadi pagi


Semalam saya mimpi buruk. Saya mimpi kamu, ya kamu, si lelaki angin yang pernah begitu istimewa di hati.

Tak perlulah kamu tau mimpi lengkapnya seperti apa. Saya juga lupa, tidak begitu jelas. Namanya juga mimpi, alurnya terkadang aneh dan jalan ceritanya absurd, semuanya lebih menyerupai kelebat-kelebat yang berkabut. Tapi dua hal yang saya ingat jelas; di situ ada kamu, dan ada saya yang menangis.

Kamu dan tangis. Kamu dan saya yang menangis. Kamu dan penyesalan. Hm, itu memang dua hal yang kamu paling jago. Dua hal yang kamu banget.

Kamu tau, di mimpi semalam, wajah berkacamatamu bahkan tak muncul lho. Kamu hanya muncul dalam bentuk sebuket bunga dengan secarik kartu. Buket indah penuh bunga putih, persis seperti kesukaan saya. Namamu ada di kartunya. Di pojok kanan paling bawah. Nama si pengirim.

Tulisanmu di situ panjang. Selembar bolak-balik. Di halaman pertama, tulisanmu bikin tersenyum. Kamu menanyakan kabar, mengingat-ingat masa kita dulu, lalu melantur soal ini itu. Ah, dari dulu kamu memang kurang jago menulis. Masih kalah sama saya. Kamu ingat, dulu kamu selalu minta saya menilai dan mengedit tulisan-tulisanmu?

Tulisan panjangmu di kartu itu bersambung di halaman baliknya. Dan seperti kerbau dicucuk hidungnya, saya membalik kartu dan meneruskan membaca, berharap ada happy ending di situ. Suatu kesalahan besar. Di sana kamu memang masih terus melantur, tapi tentang hidupmu kini. Keadaanmu setelah menikah. Bahagia. Dengan wanita yang bukan saya.

Aduh, kamu memang paling jago obrak-abrik hati. Tidak cukup di kehidupan nyata, kini kamu pun menjajah waktu tidur, melalui mimpi yang datangnya tiba-tiba, tanpa sempat memberi saya kesempatan menaikkan perisai pelindung. Ini memang khas kamu banget, yang selalu serba tiba-tiba. Tiba-tiba kenalan, tiba-tiba dekat, tiba-tiba bilang jatuh cinta, tiba-tiba menghilang, tiba-tiba jadi asing.

Saya ingat, di mimpi semalam, begitu membaca halaman kedua itu saya langsung menangis lama. Bukan nangis diam seperti yang biasanya saya lakukan, tapi nangis bersuara dengan sengguk, pakai hati. Belum pernah rasanya saya menangis sepilu itu untuk seorang laki-laki. Apa alasannya saya tidak tau, mungkin cemburu, mungkin tidak rela, mungkin penyesalan, atau mungkin kepingin nangis aja. Ah, kamu seperti tidak tau sifat saya saja...

Bangun pagi tadi, hati saya terasa berat. Yang saya ingat cuma tangisan itu. Dan kamu. Sekian lama sudah coba dilupakan, saya pikir kenangan itu sudah tersimpan rapat. Tapi rupanya kotak masa lalu itu masih menyisakan celah, masih bisa terbuka sekali-sekali. Sia-sia rasanya, selama ini susah-payah saya jaga supaya kita tidak bertemu di kehidupan nyata, tapi sialnya saya lupa membentengi mimpi. Bisa-bisanya kamu datang, saya juga tidak mengerti dari mana akarnya karena sudah sejak lama tidak memikirkan kamu.

Jadi begitu terbangun, pukul 5 pagi, saya langsung menulis ini. Lupa sarapan, menunda mandi, dan mengundur waktu berangkat ke kantor hanya karena harus menulis sesuatu. Bertemu kamu sungguh menguras hati.

Sayang, mimpi itu mengingatkan saya akan satu lagu. Kamu pasti tau yang mana. Kalau kamu peduli, itulah isi kepala saya sekarang. Tentang saya yang teringat kamu, dan tentang saya yang bertanya-tanya apakah kamu pernah teringat pada kita. Semoga ya. Semoga kamu juga pernah, walau sepersekian detik saja, mengingat hal-hal yang saya punya, yang saya lakukan, yang pernah membuatmu terpesona hingga bilang jatuh cinta. Ya, semoga kamu juga mengingat saya.


No comments:

Post a Comment