Friday, September 3, 2010

Spesies teladan: James Franco



“If the work is good, what does it matter? I’m doing it because I love it.
Why not do as many things I love as I can? As long as the work is good
.”
(James Franco)


Apa sih yang langsung diingat orang setiap nama James Franco disebut? Pasti deh Spiderman 1. Tapi di situ pun Franco “cuma” berperan sebagai orang keempat setelah Peter Parker, The Green Goblin, dan Mary Jane. Berikutnya, orang akan cenderung menyebut Milk dan Pineapple Express sebagai film-film terpenting Franco. Kata kritikus dan orang-orang yang udah nonton (saya sih belum), di film-film itu, Franco kelihatan real banget memerankan seorang gay dan junkie. Tapi trus so what? Bukannya banyak aktor-aktor lain yang juga pernah, dan sukses, memainkan peran begituan?

Dari segi fisik, kata cewek-cewek, Franco ganteng. Menurut saya sih nggak. Terlalu pin up dan pretty untuk selera saya. Saya udah turn-off duluan ngeliat styling rambutnya yang terlalu dandy di Spiderman 1. Jadi yah, dari dulu saya ga punya kepentingan apapun soal manusia satu itu. Di kepala saya, Franco “cuma” seorang aktor yang jarang terekspos status selebritasnya.

Itu dulu. Sampai kemudian pada suatu hari saya, yang akhir-akhir ini ketagihan baca majalah online nymag.com, menemukan nama James Franco jadi headline. Dalam huruf bold besar berwarna hitam, di sana tertulis: Is James Franco for Real? The James Franco Project. Saya makin penasaran karena di sampingnya ada gambar muka Franco menghiasi cover NY Magazine versi cetak minggu itu. My instant thoughts are; James Franco? Emang dia lagi ada project apa? Sepenting apa dia sampe NY Magazine merasa perlu memprofilkan dan menginvetigasi kehidupannya, lalu menuliskannya sampai sepanjang 8 halaman? Apa istimewanya dia? Apa saya kelewatan sesuatu??? So, out of curiousity, dan karena saya punya terlalu banyak waktu luang di kantor, mulailah saya membaca.

Dan saya ga nyesel baca! Oh God, ternyata manusia satu itu punya cerita hidup yang seru dan produktif sekali. Buat saya yang selalu senang mengamati orang dan antusias mendengar cerita hidup yang seru-seru, baca kisahnya James Franco kayak nemu harta karun. Huaaaaa ternyata ada yaaa orang seperti dia!

Artikel itu juga ditulis dengan sangat bagus. Sam Anderson menuliskannya dalam gaya feature campur opini campur narasi, tapi dengan teknik investigative reporting. Jadi kayak baca sebuah depth reporting, yang lucunya, tentang profil dan otak seorang James Franco. Berlapis-lapis, tapi rapi. Campur aduk, tapi enak dibaca. Kalo diumpamain film, plotnya ajlut-ajlutan kayak Amores Perros atau Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Edan! Hauhauhauuuu… saya makin terkagum-kagum (plus minder) sama jurnalisme orang sono. Kalian sangat maju dan cutting edge sekaliiiiii! Aku pingin bisa nulis kayak begituuuuuuuu!

Yak, enough with the journalism hysteria, mari kembali ke topik.

Jadi ya, ternyata James Franco menarik perhatian redaksi NY Magazine (dan seluruh penikmat pop culture) karena dinilai sebagai aktor dengan sidejob kemaruk dan super heavy schedule. Selain merupakan seorang movie star, Franco juga ternyata "nyambi" jadi:
Professional college grad (filmaking @ NYU, fiction writing @ Columbia & Brooklyn College, poetry program @ Warren Wilson College. Musim gugur ini dia bakal nambah 2 universitas lagi; ngambil Ph.D di Yale dan Rhode Island School of Design).
Conceptual artist,
Performance artist,
Published fiction writer,
Director,
Production company owner,
Model,
Soap star,
Avid reader,
Transgressor,
Cipher, and so on... and so on...

Saking banyaknya kegiatan ekstrakulikuler Franco, orang sono menuduhnya kemaruk dan hiperaktif. Dan bahwa semua profesi-profesi itu dijalaninya dengan serius hingga sukses dan membuahkan project-project berkualitas yang diakui kritikus, orang sono makin kebingungan. Is he some kind of a genius with an Energizer energy? Media keknya kebingungan ngeliat dia. Lalu karena nggak percaya ada aktor yang bisa sekeren itu, redaktur NY Magazine pun memutuskan untuk menaruhnya di bawah mikroskop, lalu menginvestigasinya secara teliti, lapis demi lapis. Segitu pingin taunya, apakah kesupermultitaskingannya itu beneran asli, sekedar image, atau malah stunt? Arogan atau neurotik? Singkatnya, IS HE FOR REAL?

Buat saya kegemesan mereka cukup beralasan, karena pilihan-pilihan ekstrakulikuler Franco nggak umum dan melenceng dari pakem side jobs yang biasa dijalani aktor-aktor Hollywood. Biasanya, aktor sono akan merambah dunia musik atau modeling. Paling banter mereka jadi penulis buku, penulis skrip, sutradara, atau produser. Bisa juga bikin clothing line, bikin parfum, bikin reality show, buka restoran, jadi spokesperson, jadi filantropis, atau jadi show creator (ingat Ashton dengan Punk'd dan Blah Blah Girls-nya?). Tapi jarang yang memilih balik ke bangku sekolah, jadi mahasiswa. Emang sih ada Natalie Portman, Joseph Gordon-Levitt, Mayim Bialik, dll, yang juga lebih memilih sekolah, tapi Franco kebangetan ekstrim. Dia belajar gak tanggung-tanggung. Sekaligus mendaftar di 4 universitas prestisius yang berbeda, melakukannya secara bersamaan, dan semuanya sukses. Plus masih ditambah ngerjain student projects lain yang tentunya menguras tenaga dan waktu. Gilanya lagi, seorang teman kampusnya bilang bahwa Franco sering nyelundup ke perkuliahan mata kuliah-mata kuliah yang bukan bagiannya, dengan alasan; pingin ikut ajah. Ck ck ck... dulu dikasih makan apa sih sama ibunya?

Menyadari kehiperaktifan objek tulisannya kali itu, Sam agak tercengang karena:

“Plenty of actors dabble in side projects, but none of them, and maybe no one else in the history of anything, anywhere, seems to approach extracurricular activities with the ferocity of Franco."

Langkah selanjutnya, Sam mewawancarai ibu, teman sekamar, teman-teman dan dosen-dosennya untuk mendapat gambaran seperti apa latar belakang dan kehidupan sehari-harinya Franco. Testimoni-testimoni orang-orang terdekatnya Franco itu juga cukup bikin nganga. At some point, Sam mencoba menggambarkan kondisi Franco ke dalam bahasa ilmu medis, yaitu bahwa Franco:
“Has an unusually high metabolism for productivity. He seems to suffer, or to benefit, from the opposite of ADHD: a superhuman ability to focus that allows him to shuttle quickly between projects and to read happily in the midst of chaos. He hates wasting time—a category that includes, for him, sleeping.”

Alias, kelebihan energi.

Simak juga cerita (yang menurut saya adorable) banget dari Betsy, mamanya Franco:
According to his mother, Betsy, Franco has been this way since he was born. When Franco was 4 years old, a friend of the family died. Betsy gave him the standard Mortality Talk: no longer with us, just a part of life—yes, but hopefully not for a very long time. Little James burst into tears. He was inconsolable. Eventually, he managed to choke out, between sobs, “But I don’t want to die! I have so much to do!”

Keren!

Lucunya, sampai akhir tulisan pun, Sam susah membuat kesimpulan. Franco bagaikan atom, yang dulu semua orang kira merupakan 1 sel tunggal yang nggak bisa dibelah-belah lagi, tapi begitu dicoba dibelah ternyata memuncratkan beribu-ribu partikel lain. Mereka pusing harus kasih Franco label apa. Aktor multitalented? Seniman serius?? Pelajar intelek??? Padahal sih, menurut saya nggak usah pake label-labelan segala. He’s just him. He’s a lot of things, period. We need to leave him in all his glorious life alone. Kalo sok-sok nganalisis, menurut saya gak bakalan abis-abis dibahas. He’s just THAT awesome. Let’s just celebrate and watch him go go go.

Tapi oh tapi... setelah baca artikel itu dan dibukakan matanya tentang seorang James Franco, saya kok jadi malu hati ya? Tertohok, karena saya sering malas dan sering membuang waktu (and being unapologetic while doing so). Dibandingkan Franco, saya bagaikan siput pemalas. Padahal kalo ga sering kalah sama malas, keknya saya, dan tentunya semua manusia lain, bisa aja jadi seproduktif dan sekeren si Franco.

* Untuk baca profil itu, klik ke sini.
** Baca salah satu cerpennya Franco di sini.
*** Foto cover dari sini.

5 comments:

  1. Aku suka cara Sam Anderson menulis profilnya.

    ReplyDelete
  2. huwaaa, waktu luang..!! *tertusuktusuktusuk

    ReplyDelete
  3. @ Odit : Iyah, baca itu jadi semangat nulis hehe..

    @ Midi : Hhh.. gw malah udah berdarah-darah nih saking tertohoknya @_@

    ReplyDelete
  4. ikutan nambahin beritanya :

    http://perezhilton.com/2010-09-09-james-franco-really-loves-the-gays

    quotenya itu..
    jadi pengen tau pelemnya kayak apa

    ReplyDelete
  5. Haha, gw dah baca! Huweee jadi makin kagum... Thx infonya Cits!

    ReplyDelete