Wednesday, May 26, 2010

Kangen "me time" di sini



Di tengah sumpeknya bis Bianglala 44 dan polusi di sepanjang jalan Thamrin - Kebayoran Lama, saya sering teringat Bandung. Segala-galanya tentang kota itu sungguh ngangenin. Saya kangen udaranya, pohon-pohonnya, suasana laidback-nya, atmosfir kreatifnya, warganya, keromantisannya, makanannya, angkot-angkotnya. Semuanya. Buat saya, setiap sudut kota ini begitu ramah dan sederhana.

Di kota ini, saya punya tempat-tempat favorit untuk ber-me time. Beberapa di antaranya adalah perpustakaan Zoe, Cafe Pisa di Cihampelas Walk, Balai Pustaka, Sabuga, Kota Kembang, Gede Bage, dan gereja saya, GKI Maulana Yusuf. Tempat-tempat itulah yang paling sering saya datangi setiap ngerasa sedih, atau setiap kali pingin autis sendirian. Cari bangku kosong, trus duduk sambil baca, nulis-nulis, gambar-gambar, atau bengong ngeliatin orang. Sering juga saya diam saja.

Tapi nggak ada tempat yang sespesial Rumah Buku. Ini tempat yang paling saya sayangi di Bandung. Dikelilingi buku-buku dan suasananya yang sangat homy, biasanya pikiran yang tadinya mumet dan ribut bersahut-sahutan, jadi reda. Dan pulangnya, saya merasa tenang dan dapat banyak inspirasi.

Paling enak ke sana pagi-pagi. Turun di depan kompleks Hegarmanah, lalu jalan kaki yang sedikit menanjak. Udaranya segar karena kompleks itu pepohonannya rindang, sepi mobil dan di kanan-kiri banyak rumah-rumah besar yang bisa dilihat-lihat. Sesampainya di sana, saya biasanya duduk dulu untuk menikmati suasana, lalu memilih-milih buku. Setelah dapat beberapa buku yang tampak seru, saya menuang teh, lalu duduk dan asik membaca. Sudut favorit saya adalah sofa abu-abu di dekat dapur, di depan rak children's book. Saya ingat, pertama kali ke sini sendirian, buku pilihan saya adalah kumpulan lirik lagu dan puisi Bob Dylan yang super tebal. Sambil menyeruput teh yang kental dan hangat, waktu itu saya merasa bahagia sekali dan berjanji untuk datang dan datang lagi. Tidak pernah saya di sana sekedar 1 atau 2 jam. Selalu minimal 5 jam, dan maksimal seharian.

Koleksi buku di sini, walau tidak seberapa, sangat beragam. Kebanyakan sastra, novel dan art books. Tapi favorit saya adalah koleksi children books-nya. Seru-seru! Di rak ini pulalah saya nemu salah satu buku favorit saya, South of France dari Sara Midda (yang waktu itu akhirnya saya embat, saking sukanya, hahaha... maaf yaaaa!). Di pojok lain, ada rak DVD yang koleksinya "nggak pop banget". Kebanyakan adalah film-film mikir yang "berat" dan jarang ditemui di toko lain. Kalau sudah jadi member, kita bisa sewa film untuk dibawa pulang, atau bisa juga langsung ditonton di kamar nonton yang tersedia.

Spot favorit lainnya adalah meja tengah. Meja ini unik, karena bukan meja beli jadi. Alas mejanya terbuat dari beberapa potongan kayu panjang yang di atasnya tersusun kaleng dan botol-botol bekas dalam berbagai ukuran dan warna. Pernah, saya melihat satu cowok Asia keren duduk di situ, lalu menyebar kertas-kertas kerjanya sampai memenuhi setengah meja. Kelihatan sibuk dan seksi sekali. Pas saya tanya-tanya ke Mbak penjaga, cowok itu ternyata tamu pribadinya si pemilik Rumah Buku. Ia sutradara muda dari Korea yang sudah beberapa hari menginap di salah satu kamar di situ untuk mengerjakan suatu project di Bandung. Mendengar itu, derajat seksinya di mata saya pun bertambah berkali-kali lipat, hehehe...

Satu hal unik lagi dari tempat ini adalah lemari bukunya yang bukan dari lemari/rak kayu beli jadi, tapi merupakan rak rakitan DIY sederhana dari papan kayu dan batako abu-abu. Di ujung kanan dan kiri rak, 2 baris batako disusun sebagai penopang. Masing-masing terdiri dari 3 sampai 4 tumpuk batako, lalu di atasnya diletakkan papan kayu panjang yang kuat sebagai rak menopang buku-buku. Charming sekali...

Tapi terakhir kali ke sana, saya sempat kecewa. Pemilik Rumah Buku menjadikan 2 kamar di sana sebagai kantornya, sehingga banyak karyawan yang lalu-lalang dan asik ngobrol. Rumah itu jadi tidak setenang dulu. Bahkan waktu itu saya sempat merasa kesal karena berisik dan pulang karena nggak betah. Tapi itu 3 tahun yang lalu sih. Saya nggak tau keadaan Rumah Buku sekarang karena belum sempat ke sana sama sekali sejak kerja di Jakarta. Hiks, padahal kangen setengah mati...

No comments:

Post a Comment