Hmmm...
I consider myself as a girl with odd interests. Saya bisa terpukau di pinggir jalan sampai bermenit-menit untuk mengagumi pohon Flamboyan yang lagi mekar dan bisa terharu cuma gara-gara nemu kalimat yang bagus banget di buku yang lagi dibaca. Ga banyak orang yang ngerti isi kepala, kepribadian, dan mood saya yang sering nggak ketebak. Saya bisa cuek dan numb walaupun udah disakiti sedemikian rupa sama keluarga dekat, tapi kadang bisa sedih dan tersinggung berat cuma gara-gara pas lagi curhat, orang yang saya curhatin matanya melirik ke arah lain (sepersekian detik doang padahal...) dari muka saya yang lagi berapi-api cerita. Dududuuu...
For that, I consider myself high-maintenance. Susah diraih, seorang sahabat pernah menjabarkan. I don’t mind being labelled that way, karena walopun dari luar ramah dan gampang ketawa-ketawa, saya sadar, sebenernya saya ini awkward bersosialisasi dan lebih nyaman sendirian. Sering-sering berinteraksi sama saya, orang bakal capek. Saya sendiri juga capek kalau harus terus-terusan berinteraksi sama orang. Makanya saya lebih senang autis sendirian, berasik-asik dengan keanehan saya sampe puas tanpa ada yang ngerecokin.
Dicap aneh dan nggak gaul, saya udah biasa. Dulu sih sedih... apalagi waktu jaman sekolah. Saya dulu bingung banget, kenapa apapun yang saya anggap menarik, buat orang lain malah membosankan atau nggak menarik??? Setiap tertarik berteman sama orang yang saya anggap menarik, eh ternyata orang itu dibenci, dianggap annoying, bahkan dicap public enemy sama orang-orang dengan alasan; “anaknya suka aneh...”
Waktu kelas 3 SMA, saya sebangku sama Mita, anak yang menurut saya menarik dan punya banyak topik pembicaraan seru. Mita ini pacaran sama Dimas, cowok bongsor, berkulit albino dan walaupun masih muda, adalah seorang musisi jazz instrumental yang sangat passionate. Kebetulan saya juga kenal Dimas, malah pernah sebangku selama setahun waktu kelas 2
Belajar dari pengalaman itu, pas kuliah saya bodo amat. Seperti biasa saya langsung tertarik sama orang-orang aneh (yang kebetulan emang banyak bener bertebaran di kampus FIKOM). Waktu anak-anak seangkatan mencap Mpo’ (senior sekaligus teman kos saya) sebagai Enemy #1, saya tetep temenan sama dia. Waktu Abi dianggap annoying, saya cuek dan tetap menganggap dia hebat. Waktu anak sekelas bete sama Ari karena dianggap sok dan kelewat nyentrik, saya tetap ngobrol dengannya tiap hari. Tiap hari membalas sapaan Italia-nya (“Come sta, Grace?”) dengan antusias ("Molto bene, Ri!”). Hehehe, orang aneh ketemu orang aneh, begitu mungkin arti kerutan dahi orang-orang yang menangkap basah ocehan kami. Tapi saya nggak peduli. Selama baik dan nggak punya catatan kriminal, buat saya orang-orang unik itu hebat dan terlalu berharga untuk dicuekin. Dan saya senanggg sekali bisa kenal dan bertahan temenan sama mereka.
Begitu terus sampai sekarang. I dare to say bahwa saya begitu nyaman sama diri dan pilihan-pilihan yang saya buat, hingga nggak peduli sama apapun kata orang. Bergaul sama siapapun yang saya mau, membeli apapun yang saya mau, dan melakukan apapun karena keinginan sendiri. Bukan karena terseret tren, pingin populer, pingin disukai orang, atau demi orang lain. Hurrah!!! ^_^
Ngomong-ngomong soal aneh, so pasti saya punya banyak kebiasaan, minat dan printilan-printilan aneh yang nggak meaning buat kebanyakan orang. Tapi saya sempat mencatat ada beberapa orang di luar sana yang “mengidap” keanehan yang sama kayak saya. Ini dia list-nya:
1. Vivienne Westwood (fashion designer): Sama-sama tertarik dan menyimpan bulu Merak. Fyi, cukup lama saya pingin punya bulu burung ini. Nyari kesana-kemari, akhirnya dapet dari Zaki. Oleh-oleh dari Ponorogo, rupanya bulu Merak mudah dicari di Ponorogo karena dipakai jadi bahan bikin kepala Reog.
2. Dave Hendrik (artis ibukota): Dari suatu wawancara, saya tau kalau dia punya satu cita-cita yang sama kayak saya, yaitu punya bookshop sendiri.
3. Cicit (sesama FIKOMers angkatan 2000): Sama-sama suka dan menikmati nonton di bioskop sendirian. Biasanya orang malas nonton sendirian, katanya sih rasanya risih kalau di bioskop duduk tanpa teman, kesannya nggak punya temen aja... Tapi saya malah suka tuh.. dan rupanya Cicit juga.
4. Oprah Winfrey (media mogul): Ada dua kesamaan kita, sama-sama penggemar berat buku White Oleander (Janet Fitch), dan sama-sama serius mengkoleksi quote-quote inspiratif. Serius dalam arti punya buku tersendiri tempat kita mengarsip kutipan-kutipan berharga itu.
5. Julidon (sesama anggota Dewajun & Philia, Bandung): Kita berdua pernah kecanduan main Minesweeper. Jarang ada orang yang ngerti main game itu, apalagi sampe kecanduan dan susah berhenti kayak saya. Makanya begitu tau Bang Julidon ini juga addict, saya kayak dapat teman senasib-sepenanggungan. Kayak pengguna narkoba ketemu sesama junkie, haha!
6. Ayu Utami (penulis): Sama-sama kesel setengah mati sama keadaan trotoar Jakarta yang parah dan bolong-bolong. Di buku Parasit Lajang (2003), Ayu mendeskripsikan keadaan trotoar kota ini dengan sangat sempurna, yaitu bahwa “Trotoar Jakarta adalah medan latihan kewaspadaan”. Setuju!
7. Anita Moran (my boss): Adalah satu-satunya orang (yang saya kenal) yang pernah baca buku Aku Mau... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899 - 1903. Dalam Surat Redaksinya di Gogirl! Maret 2008, saya mendapat kesan bahwa bos saya ini paham hebatnya isi surat-surat itu. She understands the book and got the message. Sama kayak saya, yang walaupun dari SD tau RA Kartini, tapi baru paham sepaham-pahamnya sama kehebatan, kepintaran dan keberaniannya Kartini setelah baca buku itu... Baru ngerti seberapa dahsyatnya jasa Kartini, wanita yang sangat melampaui jamannya!
8. Andy F. Noya (TV personality): Sama-sama merasa nyaman dikelilingi buku-buku, baik di perpustakaan atau toko buku. Untuk menambah kadar keanehan, saya malah ngerasa kalau perpustakaan itu punya bau khas yang harummm banget!
9. Michael Jackson (music legend): We both love trees. I mean really really love trees. Di sebuah wawancara, Michael pernah bilang kalau he has special connection with trees. Saya sendiri selalu kagum sama pohon, sama keragaman bentuknya, kemegahan batangnya, bentuk-bentuk daunnya, ademnya, gemerisik daun-daunnya kalau ditiup angin, manfaatnya buat lingkungan dan manusia, dll. Oya, kalau doodling, saya sukaaa banget gambar ranting pohon dan cabang-cabangnya. Hahaha, freak banget dah!
they say that high maintenance is another way of saying high quality :)
ReplyDeleteAh, Grace aku juga nonton bioskop sendirian..i enjoy every second of it, just you and the movie..
suka ga ngerti sama orang-orang yang selalu bilang, "kasihan" setiap aku bilang aku mau ke bioskop sendiri...
-Ika