
14 tahun lalu, I fell in love at the first sight with Paolo Maldini. Waktu itu saya masih kelas 2 SMP, baru jadi penggemar bola dan belum punya tim jagoan. Suatu malam saya nonton AC Milan tanding, dan begitu Maldini disorot, saya langsung jatuh suka sama keseluruhan fisiknya, terutama rambutnya yang panjang ikal. Sejak itu, dialah yang saya idolakan dan AC Milan yang saya jagokan. Saya pun mencoba mengenalnya, dan setelah membaca perjalanan karir dan kisah hidupnya, saya makin terpesona.
Bagaimana tidak, Paolo Maldini (lahir 26 Juni 1968) adalah defender dari klub raksasa AC Milan, Italia. Maldini terkenal sebagai pemain kalem yang bicara melalui kerja keras dan prestasi. Bek yang tangguh dan pemimpin yang berkharisma. Selama 40 tahun hidupnya dan 25 tahun karirnya, Maldini cuma membela 1 klub, yaitu AC Milan. Debutnya bertanding secara resmi di Liga Serie A Italia bersama AC Milan dimulai pada musim 1984-1985. Waktu itu 20 Januari 1985, Maldini turun bertanding melawan Udinese, Ia masuk di paruh kedua pertandingan menggantikan Sergio Battistini. It was his only league appearance of the campaign, but he was in the starting eleven the following season. He was 16. Since then, he never stops.
Sepanjang karirnya, Maldini 901 kali memperkuat AC Milan dan mencetak 33 gol. Menyumbang 26 piala, termasuk 7 Italian Serie A Championships, 5 Liga Champions, 5 UEFA Super Cup, 2 Piala Interkontinental, serta 1 FIFA World Club. He is the most selected player in the history of AC Milan and Italian Serie A, serta termasuk dalam AC Milan's undefeated "Dream Team". Oya, Maldini juga adalah Kapten AC Milan entah sejak kapan, kayaknya dari awal saya kenal, dia udah jadi kapten deh...
Di kancah internasional, walau nggak pernah membawa Italia juara FIFA World Cup, Maldini tetap berprestasi. Ia memperkuat timnas sejak 1994 (bareng Roberto Baggio dkk). Ia juga terpilih sebagai UEFA Champions League Best Defender (2007), jadi kapten tim nasional Italia selama 8 tahun (1994-2002) dan tercatat sebagai pemain Italia yang paling banyak turun bermain di pertandingan internasional sepanjang sejarah (126 kali dari 1988-2002). Maldini juga mencatat sejarah dengan menjadi the first defender ever yang mendapat penghargaan World Player of the Year majalah World Soccer. Dalam acceptance speech-nya waktu itu, Maldini bilang; "A particular matter of pride because defenders generally receive so much less attention from fans and the media than goalscorers. We are more in the engine room rather than taking the glory."
So... stating the obvious, he’s not only a football player nor a mediocre defender. He’s a symbol to his club, city and his country.
Minggu, 24 Mei lalu kemarin adalah pertandingan terakhir Paolo Maldini di Stadion Giuseppe Meazza, kandang AC Milan. Ever. Maldini gantung sepatu setelah 25 tahun bermain untuk AC Milan. Malam itu, AC Milan melawan AS Roma. Laga ke-901 buat Paolo Maldini. Laga terakhir Sang "La Bandeira della Milan" di depan para pendukungnya, di kotanya sendiri.
Minggu malam itu, saya paksakan diri nonton pertandingan terakhirnya. Saya sempat nggak mau nonton sama sekali, bahkan berniat untuk nonton konser Agnes Monica aja di Trans TV, tapi lalu berubah pikiran. Pas ganti channel ke Trans7, pertandingan sudah berjalan. Saya kelewatan 7 menit pertama dan nggak menyaksikan tribute apapun yang sudah dipersiapkan untuk Maldini. Tapi tak apa. Saya rasa saya nggak bakal kuat melihatnya.
Saya menonton dengan perasaan campur aduk. Mencoba menumpulan perasaan, tapi sulit karena Maldini disorot terus-menerus. Komentator juga terlalu sering menyebutkan namanya. Di balkon dan sudut-sudut stadion juga terhampar spanduk-spanduk penghormatan dan ucapan terimakasih para Milanisti untuk Maldini. Saya makin tersadar, kalau this is truly it. It’s the end of an era. Terbayang di kepala bahwa inilah terakhir kali saya bakal melihat dia, baik bermain bola maupun tidak. Karena Maldini sudah duluan pensiun dari tim nasional 2002 lalu dan menurut berita, dia nggak punya niat sama sekali jadi pelatih. Jadi kemungkinan dia muncul lagi di TV, untuk hal apapu yang berkaitan dengan sepak bola, sangat kecil. Saya nggak akan bisa liat dia live dimana-mana lagi.
Saya juga heartbroken, karena dia keburu pensiun sebelum saya menginjak Italia. Keburu pensiun sebelum saya sempat bertemu langsung dengannya, sebelum saya melihat dia bertanding live Guiseppe Meazza atau latihan di Milanello. Padahal tekad saya tahun depan mau backpacking ke Milan. Cuma demi dia.
Then I freaked.
Saya begitu gelisahnya sampai memutuskan untuk menelepon satu-satunya orang yang pasti bakal mengerti. Saya menelepon Opak.
Opak adalah Rianny, sahabat saya dari SMP. Umur persahabatan saya dengannya berbanding lurus sama umur kecintaan saya pada Maldini. Rianny juga penggemar bola, lebih gila dari saya malah.. tapi dia mengidolakan Juventus dan Alessandro Del Piero. Dulu, waktu saya dan Rianny kelas 2 SMP, kita adalah satu-satunya cewek penggemar fanatik bola. Satu sekolahan udah maklum sama tingkah lebay kita sebagai soccer maniac. Mungkin mereka mikir aneh, cewek ABG, kok ya suka bola? Tapi kita cuek. Peduli amat dianggap aneh sama cewek-cewek sesekolahan, karena di saat mereka semua menjerit-jerit liat Ronan Keating dan Backstreet Boys, kita berdua malah histeris liat pemain bola. Bersama Rianny, saya bersenang-senang dan menimati saat-saat terbaik jadi cewek ABG pencinta bola dan Italia. Kerjaan kita berdua tiap hari ya ngobrol bola sampe berbusa-busa, hunting majalah dan berita bola dari koran/ tabloid, atau ngayal tentang Maldini dan Del Piero. Kita bahkan sampai beli kamus Italia segala untuk belajar bahasa itu secara otodidak. It was damn good 'ol times! Begitu kuliah dan pindah ke Jatinangor, somehow I stopped watching soccer. Biarpun masih cinta Maldini, AC Milan dan Italia, tapi nggak separah dulu. Tapi Rianny terus fanatik, kadar gila bolanya masih terus bertahan ‘till this day. Makanya saya tau, malam itu dia pasti masih bangun dan pasti memaklumi kehiperbolaan saya.
Pas telepon diangkat, tanpa basa-basi saya langsung nyerocos dan sedikit meraung-raung ke sahabat saya itu. Dengan komen-komen nyelekit dan kocaknya, Rianny berhasil bikin saya tertawa-tawa. Dia bahkan ngeledek saya, kalau misalnya yang pensiun itu Del Piero, dia nggak bakalan nelpon lalu nangis-nangis macam saya begitu. Hehehe, soalnya katanya dia bakal nggak sempet, karena terlalu sibuk ngiris pergelangan tanganya... Hehehehe, walau lebay, itu khas Opak banget!
Setelah ngobrol singkat dengannya, perasaan saya sedikit ringan. Sedikit sekali. Tapi yang ringan itu cukup kuat untuk saya menabahkan hati dan menonton kelanjutan pertandingan. Malam itu AC Milan bermain buruk hingga kalah dengan skor 3-2. Ambrossini si pencetak 2 gol bahkan dapat kartu merah dan diusir ke luar lapangan. Yang lebih parah, kekalahan ini berbuntut AC Milan tergusur dari posisi 2 klasemen dan terancam terlepas privilege-nya untuk lolos otomatis ke Piala Champion musim depan. Sungguh suatu closure yang sangat salah buat pelepasan seorang Maldini. Tapi saya nggak peduli.
Setelah pertandingan selesai, Maldini mendapat kehormatan dengan melakukan lap of honour mengelilingi Guiseppe Meazza. Sepanjang lap, Maldini lari dengan muka datar, seakan menahan perasaan, cuma sesekali tersenyum tipis membalas sambutan seisi stadion. Muramnya itu bukan karena malam itu timnya kalah hingga merusak pertandingan terakhirnya. Saya tau, dia sedih karena this is his last. Lalu saya jadi sedih juga untuknya. It must be hard. Terakhir kalinya bertanding, bersama klub yang sudah dibelanya selama seperempat abad umurnya. Terakhir kalinya bertanding untuk sepak bola yang dicintainya seumur hidupnya. I wonder, kira-kira apa ya yang berputar di kepala dan hatinya malam itu? Lalu apa rencananya setelah ini semua berlalu?
Hhh… bukannya saya nggak nyadar kalo postingan ini panjang. Mungkin malah termasuk salah satu post terpanjang di blog ini. Terkesan berlebihan dan terlalu mellow memang, tapi saya merasa harus. Toh tulisan ini mengalir dan jujur apa adanya.
This is a tribute to him. 14 years ago, I picked the right soccer player, I picked the right man, I picked a legend. Melalui karir dan kehidupan pribadinya, saya belajar banyak tentang loyalitas, leadership, kerja keras, determinasi, elegance, dan bahwa actions always speak louder than words.
*Pics by unknown, taken from flickr.com
ciaooo!
ReplyDeletegw juga cinta mati sama paolo maldini sejak tahun piala dunia 1994. mungkin kita harus menunggu christian muncul buat mengobati rasa kangen sama bapaknya haha!
ada kabar terbaru dari dia skrg?
Ciao juga Caramella! Thx for commenting! Senangnya ketemu sesama pencinta Maldini. He's just the greatest, isn't he?
ReplyDeleteIya, ga sabar nunggu Christian besar, tapi denger-denger Daniel juga udah menampakkan bibit-bibit jago bola. Kalo liat di Youtube, ada video dia berhasil men-tackle Clearance Seedorf lho! Sekarang dua-duanya udah masuk tim junior AC Milan, jadi kita tunggu aja hehe..
Hm, kabar terbaru dari Paolo, katanya dia merambah dunia fashion dengan menginvestasikan uangnya untuk clothing line Pretty Green punyanya Liam Gallagher (yup, vokalisnya band Oasis itu).
Oya, Caramella punya blog? Please leave your link, I'd love to read yours. ^_^