Tuesday, February 10, 2009

3 People, 3 Stories


Nggak ada yang bisa prediksi siapa yang akan mewarnai hari-hari kita. Kayak hari ini (Tue, 3/2/09).
To me it started just like another ordinary day, sampai saya mendapat kabar dari 3 orang
yang nggak disangka-sangka:


1. Firman via Telepon

Firman adalah anak Oom saya. Anak sulungnya Uda Bongsu, adik ke-3 Papa. Tahun lalu dia baru lulus SMA dan sekarang jadi freshmen di Trisakti jurusan Pertambangan. Saya ingat dulu waktu lahir, Firman lucu banget. Dia mainan kami semua, karena kita-kita (cucu-cucu Ompung Silaban) udah pada SD dan SMP. Dulu saya ingat pernah berpikir bahwa si kecil Firman adalah my favorite alias ade kesayangan. Bahkan saya sempat berjanji dalam hati kalau apapun yang terjadi, I’ll always be there for him. Tapi semakin besar, saya makin jauh karena makin jarang ketemu. Saya juga nggak terlalu dekat secara emosional sama dia dan keluarganya. Kalau ketemu cuma pas lagi ada kawinan, arisan keluarga, ataupun acara Natal Tahun Baru. Telponan atau sms-an juga kalau (saya) lagi ada perlu aja atau pas saling ngucapin selamat ulang taun. Itupun basa-basi doang, ala kadarnya. Karena saya cewek dan dia cowok, plus umur kita beda jauhhhhh banget, makin nggak ada aja tuh yang bisa nyambung buat diobrolin.

Tapi makin ke sini Firman semakin asik. Tiap ketemuan di acara keluarga dia makin enak buat diajak seseruan. Kita berdua makin klik karena sama-sama suka ngegaring dan nyela-nyela sodara lain kayak si Fanny, Ivan, ataupun Pan. Saya juga suka gangguin dia karena dia lebay banget soal rambut. Masa rambutnya nggak boleh dipegang sama skali, takut stylingnya rusak katanya!! Huahuahua, dibilangin gitu saya malah menjadi, makin harod curi-curi kesempatan megang ‘rambut berharganya’ itu! Kita (bareng sodara-sodara yang lain) sempet sih nonton bareng beberapa kali. Dia juga sering menyapa lewat YM malam-malam waktu saya lembur di kantor, sekedar menanyakan “Kok belum pulang, Kak?” atau “Hati-hati di jalan ya Kak!”. Tapi itu tok. Begitu pisah yaudah aja, nggak pernah cerita-cerita atau curhat yang gimana-gimana. Makanya adalah hal yang amat sangat mengagetkan waktu tadi pagi dia menelepon saya.. untuk curhat..

Selama obrolan hampir 1 jam itu, Firman dengan cerianya bercerita tentang love life-nya. Hihihihi, tanpa babibu Firman cerita kalau dia newly jomblo. Abis putus sama pacarnya gara-gara hal sepele soal status relationship di Facebook. Ceritanya suatu hari Firman mengganti statusnya di Facebook dari “In a relationship” ke “Nggak”. Ceweknya nyadar dan pundung. Ngambek-ngambek pingin ngebahas hal itu. Tapi Firmannya lagi nggak mood buat ngerayu-rayu, jadilah mereka putus tus. Huahahahaha, dasar anak muda.. masa putusnya gara-gara hal nggak penting gitu hihihi.. Nah, trus sehabis putus ceritanya si Firman ini kembali hunting (biasa.. gejolak anak muda, keknya nggak bisa hidup aja kalo nggak ada pacar), dan nemu satu cewek yang ideal banget. Namanya Nanda; cantik, pintar, boru batak pula. Kenalannya juga pas acara keluarga gitu, jadi dia ngerasa wah.. ini tampak meant to banget neh!! Udah seneng-seneng, udah berbunga-bunga karena si ceweknya juga sambutannya positif, eh.. pas curhat ke Mamanya, ternyata mereka nggak boleh pacaran karena masih ada hubungan sodara yang cukup dekat! Dwenggg! Dia lemes gitu karena kisah cintanya terpisahkan sama garis adat. Hahahaha, saya sih ketawa-ketawa aja menikmati ceritanya, hehehe.. tapi sambil menghibur-hibur juga tentunya..

Firman juga pingin mampir ke kantor saya, mau cari cewek katanya. Hahaha, dia pasti ngincer model-model anak Gogirl! Look deh! Saya bilang aja ke dia supaya jangan terlalu berharap karena nggak tiap hari kantor saya dipenuhi model-model. Cuma hari tertentu aja, kalau pas lagi ada pemotretan fashion. Kalau dia kekantor hari ini sih sepi dan dia cuma bakal ketemu anggota redaksi yang kucel-kucel dan gendut-gendut, mehehehe..

Walaupun kaget karena ditelpon mendadak begitu, deep down saya ngerasa tersanjung juga. Kok bisa-bisanya Firman curhat ke saya diantara sodara-sodara yang lain, untuk membahas topik cinta pula! Secara saya minim gitu pengalaman cintanya dibandingkan sodara-sodara yang lain. Saya juga terkenal introvert diantara keluarga, jarang curhat-curhat gitu (apalagi ke dia). Tapi saya senang kok dia datang ke saya untuk meminta what so called a sister's or a woman’s advice. It’s so nice talking to him! Yah.. moga-moga aja masukan yang saya kasih tokcer, biar dia mau curhat-curhat colongan lagi next time.. I’ll be waiting!

2. Indy via SMS

Indy adalah mantan narasumber yang saya wawancarai setahun lalu untuk artikel Gogirl! Change My Life, yaitu artikel tentang pembaca-pembaca yang terinspirasi dan berubah karena baca Gogirl. Indy ini terlahir dengan penyakit skoliosis, yaitu kelengkungan tulang belakang yang abnormal dan mempengaruhi bentuk serta gerak tubuhnya. Keterbatasan itu bikin Indy nggak PD karena jadi sasaran ejekan. Berbagai peristiwa bikin Indy down sampai dia baca rubrik Reality Gogirl edisi January 2008. Di sana diprofilkan 2 orang model tuna rungu, Janah dan Lirih, yang tetap PD walaupun punya ‘kekurangan’. Indy said that article changed her, dia kagum sama semangat Janah & Lirih untuk tetap survive di persaingan dunia modelling yang keras dan ‘fisik’ banget. Dalam sesi wawancara, Indy mengeluarkan suatu quote keren, bahwa; “yang terpenting bukan seberapa normal kita, tapi kemampuan kita untuk menerima diri dan mentolerir segala keterbatasan.”

Kalimat itu, dan seluruh cerita hidup Indy bikin dia jadi salah satu narasumber yang paling memorable. Selain itu saya ingat, proses untuk bisa ketemu dan mewawancarai Indy juga cukup riweh. Waktu itu Indy bela-belain datang ke Jakarta dari Bandung (Indy kuliah di sana). Kami janjian ketemu di rumah keluarganya di daerah BSD. Waktu itu malam-malam saya diantar Bobski, driver kantor. Sampai di BSD sudah jam 9 malam, dan karena Indy belum sampai, saya dan Bobski harus nongkrong di depan kompleks sampai jam 10, hihihi! Tapi wawancara dan proses obrol-obrolnya berjalan lancar kok! I’m amazed with her life story; keluar masuk rumah sakit, gonta-ganti terapi, ejekan-ejekan (people can be so mean!), pro-kontranya dengan sang Ibu soal treatment yang pas, rasa sakit fisik, dll.. I thought damn, she’s one tough girl!

Sehabis wawancara dan setelah tulisannya terbit, kita masih keep in touch. Which is so unlike me karena saya paling parahhhhhhh dalam keeping contact with anyone! Sama temen sekolah dan sahabat-sahabat lama aja udah loose contact! Saking alerginya telepon, sms, kirim email, atau berbalas YM, saya sering banget dimarahin orang-orang, dikatain sombong dan nggak pedulian. Tapi buat kasusnya si Indy, entah kenapa tiap dia SMS, saya selalu menyempatkan untuk membalas. Kalaupun sibuk atau lagi nggak punya pulsa, beberapa hari kemudian pasti saya mengiriminya sms balasan.

Siang tadi, dari bertukar kabar, Indy cerita kalau sejak dia diprofilkan Gogirl!, banyak feedback yang datang dari orang-orang yang membaca kisahnya. Dia bilang hidupnya berubah banyak. Ada sesama penderita skoliosis yang menghubunginya, saling berbagi karena going through the same thing. I think it’s awesome, coz it’s like a full circle, dari Janah & Lirih ke Indy, lalu Indy ke teman-teman barunya itu. Saling terhubung, passing strength to each other. Beautiful. Bikin saya makin menghargai dan memaknai pekerjaan saya sebagai penulis dan pembawa berita.

Indy juga cerita kalau dia memulai terapi baru, menulis blog, buka bisnis design baju dan juga buka online store. Tapi kabar terbaru datang siang tadi, saat Indy cerita kalau semakin hari dia semakin percaya diri sejak wawancara itu. Good for her, she’s doing so great! And guess what.. dia udah jadi penulis sekarang! Buku pertamanya bakal terbit bulan Maret ini, judulnya “Waktu Aku Sama Mika” dari penerbit Homerian Pustaka. Buku ini diambil dari diary Indy waktu umur 15 tahun pas pacaran sama seorang penderita AIDS (yang sekarang udah almarhum). Until now she considers Mika as her hero. I thought wow hebat, I have to read the book! I asked her to send us a copy and she agreed. Can’t wait to read it! And it’s always nice to hear from her!

3. Ai via Blog

Ai atau Astri Wahyuni adalah sahabat saya sejak kuliah, we’ve been close friends for 7 years. She’s special karena dia selalu bikin saya merasa disayang. Kata Ai, saya lucu banget dan kreatif banget, hehehe, makanya deket-deket Ai PD saya selalu kedongkrak. Ai adalah orang pertama yang berhasil mendobrak tembok ke-introvert-an saya, yang berhasil bikin saya merasa nyaman untuk terbuka berbagi dan ‘menelanjangi diri’, tanpa takut di-judge atau ditinggalkan tanpa teman. Dalam evolusi seorang Grace Silaban, Ai adalah salah satu dari sekian banyak sahabat yang memberi banyak pengaruh baik, always one step ahead, giving me good examples. A best friend and a sister in one package. 4 tahun lalu, waktu dunia saya lagi jungkir balik, Ai adalah salah satu sahabat yang ikut menjaga lurus waras saya. Dia juga yang satu-satunya saya peluk dan saya banjiri pundaknya waktu Ayah kedua saya (Tulang Lumbantoruan) meninggal. Saya ingat, waktu itu adalah masa dimana saya lagi muak-muaknya sama kematian. Ai datang di saat-saat saya lagi terpuruk, histeris, bingung, atau pas dimusuhi seluruh keluarga besar. Sesi curhat nangis bareng udah nggak kehitung lagi dah, singkatnya we’ve been through so much!

2 tahun lalu, Ai mendapat cobaan. Bayi pertamanya dipanggil Tuhan persis pas mau dilahirkan. It’s a shocking day. A very cloudy day. Laksmi adalah bayi pertama geng kami, bayi yang dinanti-nanti. Dari mulai positif hamil, Ai selalu share perkembangan-perkembangan kehamilannya, jadi kita semua selalu up date, merasa ‘memiliki’ dan ‘kenal’ sama Laksmi. Sedihnya, waktu itu saya nggak bisa datang untuk Ai karena lagi di Bandung, lagi dalam masa-masa kritis menjelang pengumpulan draft terakhir skripsi hingga nggak bisa kemana-mana. Rasanya sakit banget nggak bisa be there for her. I can literally felt my heart aching, kayak ada sesuatu yang nusuk-nusuk di ulu hati. I couldn’t belive what happened to her. Tapi walaupun jauh, waktu itu saya percaya Tuhan menjaga Ai, saya tau Ia dikelilingi orang-orang yang mencintainya, dan saya juga tau she’s very strong.

Waktu Ai hamil lagi, saya senang bukan kepalang. Begitu Azma lahir dengan sehat, kita semua so happy! Dan lega. Tapi sejak jadi Ibu sekaligus sambil berkarir di Unilever, plus harus bolak-balik Bogor-Jakarta setiap hari, saya jadi jarang banget bisa ngobrol apalagi ketemu sama Ai. Terakhir kali janjian lunch bareng, saya mendadak batal karena tiba-tiba harus menyelesaikan satu artikel keparat. Waktu itu rasanya kesellll banget, saya sampai nangis sendirian di kubikel. Hehe cengeng memang, habis saya udah kangen berat ketemuan. Dan kebetulan waktu itu juga lagi punya masalah yang pingin dicurhatin, huh!

Besok, rencananya saya ada janji lunch dengan Ai. So so so excited! Dan sore ini buat pemanasan, iseng-iseng saya buka blognya (http://pelangimimpi.multiply.com/journal). Tapi pas baca postingan “Ketika semua jadi nggak penting..” saya kaget. Kagum membaca perjalanan yang harus Ai tempuh setiap hari. Sekaligus malu hati karena kemana aja saya selama ini, sampai nggak tau apa-apa lagi soal hidupnya sebagai new mommy? Nggak tau hal-hal se-simple rute perjalanan komuternya, jadwal memompa ASI-nya, atau kegiatan weekend mom-nya. Dan dimana saya waktu dia capek dan pingin curhatin sebagian isi hatinya? Gila, penyakit anti berkomunikasi saya udah kronis banget! Harus berubah!
H A R U S B E R U B A H G R A C E !!!

Anyway anyhow, menyenangkan sekali bertukar kabar!

1 comment:

  1. Firman temen gw juga yee.
    GANTENG BANGEEEEETTT...
    kebetulan kamar kos nya firman didepan kamar kos saya.
    sekarang dia lagi jatuh cinta ni..
    ni sekarang lagi curhat di kamar saya.
    dia lagi cinta sama senior nya di kampus namanya Cristina (kayak penyanyi dangdut yee..) boru nya manihuruk. TOP DAAAH.

    +FACHRI NDP +
    TEKNIK GEOLOGI UNPAD

    ReplyDelete